Perasaan sukacita, bahagia, bercampur haru dan sedih bersemayam di hati para calon wisudawan/wisudawati menjelang hari-hari inaugurasi yang terjadi sekali seumur hidup itu (untuk jenjang pendidikan yang ditempuh). Bahagia dan bangga karena berhasil menyelesaikan studi dan membuat orang-orang tercinta tersenyum bahagia dengan keberhasilan itu. Haru dan sedih karena harus meninggalkan kampus tercinta, teman-teman seperjuangan dan berbagai kenangan "indah" lainnya.
Pun demikian untuk mahasiswa Universitas Negeri Padang khususnya Fakultas Ekonomi. Sebanyak 351 orang calon wisudawan/wisudawati dari jenjang S1 (4 prodi-PE, AK, M, EP) dan D3 (AK dan MP) sepertinya merasakan tanggal 29 September 2012 begitu lambat datangnya. Perasaan tidak sabar dan "deg-degan" menunggu momen bersejarah tersebut.
Walaupun tidak mengeneralisasi semua wisudawan/wisudawati, masalah "apapun yudisiumnya" atau "berapapun nilai transkip" seakan-akan menjadi urutan yang kesekian, dibanding hilangnya "derita" saat menuntut ilmu di perguruan tinggi. Selamat atas keberhasilan seluruh calon wisudawan dan wisudawati !
Pembaca yang berbahagia. Khususnya para calon wisudawan/wisudawati..
Meskipun ini bukan "kata-kata" terakhir (karena tentu saja kita tetap dapat berkomunikasi -- jika diberi ijin oleh Allah SWT) , maka pada kesempatan ini perkenankan saya menyampaikan beberapa hal-- yang saya harap telah dilakukan (i wish you had done) :
1. Bersyukur kepada Allah SWT, Tuhan YME atas segala kemudahan yang diberikan kepada anda dalam menyelesaikan studi. Disamping begitu banyaknya nikmat dan karunia yang telah anda perolehse.lama ini
2. Salami, peluk, dan ciumi kedua orangtua atau bagi orangtuanya yang telah meninggal, ziarahi makamnya dan berikan do'a kepada beliau. Sampaikan terimakasih yang seikhlas-ikhlasnya, karena tanpa mereka anda tidak akan mungkin berhasil seperti ini.
3. Kepada guru-guru, mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Termasuk juga guru mengaji dan orang-orang yang telah mengajari anda walaupun bukan di jalur formal, serta semua orang yang telah membantu anda. Jangan lupakan mereka, walaupun mereka Insya Allah ikhlas membantu anda.
Semoga ucapan terimakasih dan penghargaan yang biasanya ada di kata pengantar skripsi/tugas akhir bukan sekedar "formalitas" belaka, tapi betul-betul dijiwai dan direalisasikan
4. Jika diberi kelapangan rezeki, keluarkanlah infaq dan sedekah, agar lebih diberkahi oleh Allah SWT.
5. Persiapkan diri untuk menghadapi "dunia nyata" dengan memantapkan hardskill dan softskill
[meskipun calon wisudawan/wisudawati FE UNP tidak lagi memperoleh training personality development , bukan berarti "ilmu" nya tidak bisa dipelajari mandiri]
6. Bacalah buku-buku tentang bagaimana membuat surat lamaran yang baik, membuat curriculum vitae yang baik, dan juga buku soal-soal tes perekrutan , psikotest, dan buku-buku interview. Latih diri untuk menghadapi itu !
7. Pro-active mencari informasi lowongan kerja. Jangan merasa cukup dengan 10 atau 20 surat lamaran. Kirimkan lebih banyak lagi, tetapi jangan lupa anda kumpulkan potongan iklan dan informasi lowongan tersebut agar jika sewaktu-waktu terpanggil, anda tidak kebingungan tentang posisi apa yang dilamar dan lainnya.
8. Perbaiki ibadah dan selalu memohon pertolonganNya.Hilangkan perasaan sombong dan takabur, karena sifat tersebut hanya akan merugikan diri sendiri
Bagi yang ingin menjadi entrepreneur, semoga dimudahkan jalannya oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. jangan mudah menyerah ! Keberhasilan memang tidak mudah diraih. Tetapi ia tidak akan bisa diraih kalau kita tidak mencoba melakukannya.
Mungkin masih banyak hal-hal yang mestinya telah dilakukan dan mestinya terus akan dilakukan oleh calon wisudawan/wisudawati. Postingan ini hanya sebagian kecil. Postingan ini bukan menggurui tetapi untuk mengingatkan kita semua. Tidak perlu ditanggapi dengan sempit hati. Mudah-mudahan bermanfaat..
Selamat Wisuda !
Wish You Luck !
Senin, 17 September 2012
Minggu, 16 September 2012
Untung Buntung
Tidak terdapat kesalahan penulisan atas judul postingan kali ini. Juga tidak ada maksud untuk mendiskreditkan saudara kita yang "kekurangan". Mungkin pembaca juga pernah mengikuti cerita yang relatif memiliki kesamaan dengan cerita ini. Judul "Untung Buntung" dilatarbelakangi cerita berikut :
Nun di Negeri Sana, terdapat sepasang suami istri yang telah lama menikah, namun belum juga dikarunia keturunan. Setelah berikhtiar semaksimal yang mereka bisa, dan tak lupa untuk memohon pertolongan Yang Maha Kuasa, akhirnya sang istri mengandung.Sembilan lamanya dalam perut sang ibu, akhirnya anak yang dinanti lahir kedunia.Alhamdulillah...
Meskipun tanpa satu lengan, suami istri itu tetap berbahagia. Kumandang azan diperdengarkan ketelinga bayi laki-laki itu.
Seiring waktu, sang anak mulai tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. Yang membedakan hanyalah, bahwa sang anak tidak memiliki lengan yang sempurna. Lengan kanannya tiada. Buntung ! Dikarenakan belum mengerti, "kekurangan"nya tidak dirasakan sang anak.
Sampai saat beranjak remaja, sang anak mulai menyadari, bahwa dirinya memiliki "kekurangan". Dia protes kepada orangtuanya, "mengapa saya tidak punya lengan kanan?"
Kedua orangtuanya tetap membesarkan hatinya dengan mengatakan bahwa "Tuhan memberikan yang terbaik bagi kita anakku!"
Demikianlah, sampai sang anak mulai dewasa, "kekurangannya" tetap membuatnya merasa sedih, minder, dan malu untuk bergaul dengan lingkungannya.
Akhirnya, momen yang membuat sang anak berbalik 180 derajat terjadi. Saat terjadi penyerangan oleh para penjahat kanibal ke Negeri Sana. Kepala rampok memerintahkan anak buahnya untuk menangkapi semua pemuda untuk dijadikan makanan mereka. Para penjahat itu percaya, daging pemuda akan membuat mereka tambah kuat.
Semua ditangkapi, kecuali sang anak yang bertangan buntung ! Karena dalam kepercayaan mereka, jika makan daging dari manusia bertubuh cacat akan membawa petaka.
Setelah para rampok kanibal itu pergi membawa para pemuda yang bertubuh lengkap, orang-orang kemudian berkumpul membicarakan keuntungan sang anak tadi.
Untung Buntung, karena Buntung dia Untung tidak menjadi makanan penjahat kanibal !
Sang anak yang buntung pun meminta ma'af kepada orangtuanya dan bersyukur kepada Tuhan karena terlahir buntung. Semenjak itu dia berjanji untuk tidak lagi mengeluh dan sedih dengan kebuntungannya dan akan selalu mensyukuri anugerah yang telah diberikanNya.
Pembaca yang berbahagia...
Ilustrasi diatas adalah sebuah gambaran fenomena yang banyak terjadi di tengah kita.
Seringkali kita merasa kekurangan, bahkan merasa sangat kekurangan. Kita tenggelam dengan "rasa kekurangan" itu. Sehingga kita merasa bahwa Tuhan telah tidak adil kepada kita dan kita kemudian menjadi lupa mensyukuri nikmatNya yang lain.
Tetapi jika kita kemudian lebih melakukan jujur dalam melakukan KONTEMPLASI , perenungan, maka ternyata kemudian kita akan merasakan bahwa Allah SWT juga memberikan kelebihan yang mungkin lebih banyak kepada kita. Sementara untuk kekurangan kita, kita akan sampai pada keyakinan bahwa ada hikmah dibalik itu , dan kemudian akan baru bisa kita pahami seiring berjalannya waktu.
Kita tidak perlu menjalani kehidupan "buntung" untuk kemudian meyakini bahwa telah terlalu banyak nikmat yang Allah berikan.
Tidak perlu berhadapan dengan penjahat kanibal untuk meyakini bahwa kekurangan yang ada kita ada hikmahnya.
Yang perlu kita sadari dan yakini untuk kemudian kita amalkan adalah :
MEMPERBANYAK SYUKUR, karena SYUKUR akan MENAMBAH NIKMAT ALLAH , dan
TIDAK KUFUR NIKMAT agar TIDAK DIMURKAI ALLAH
Ma'afkan aku jika kurang syukurku
Ampuni aku akan kurang yakinnya aku akan nikmatMU
ya Allah
(maher zain)
wallahu'alam bisshawab
Nun di Negeri Sana, terdapat sepasang suami istri yang telah lama menikah, namun belum juga dikarunia keturunan. Setelah berikhtiar semaksimal yang mereka bisa, dan tak lupa untuk memohon pertolongan Yang Maha Kuasa, akhirnya sang istri mengandung.Sembilan lamanya dalam perut sang ibu, akhirnya anak yang dinanti lahir kedunia.Alhamdulillah...
Meskipun tanpa satu lengan, suami istri itu tetap berbahagia. Kumandang azan diperdengarkan ketelinga bayi laki-laki itu.
Seiring waktu, sang anak mulai tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. Yang membedakan hanyalah, bahwa sang anak tidak memiliki lengan yang sempurna. Lengan kanannya tiada. Buntung ! Dikarenakan belum mengerti, "kekurangan"nya tidak dirasakan sang anak.
Sampai saat beranjak remaja, sang anak mulai menyadari, bahwa dirinya memiliki "kekurangan". Dia protes kepada orangtuanya, "mengapa saya tidak punya lengan kanan?"
Kedua orangtuanya tetap membesarkan hatinya dengan mengatakan bahwa "Tuhan memberikan yang terbaik bagi kita anakku!"
Demikianlah, sampai sang anak mulai dewasa, "kekurangannya" tetap membuatnya merasa sedih, minder, dan malu untuk bergaul dengan lingkungannya.
Akhirnya, momen yang membuat sang anak berbalik 180 derajat terjadi. Saat terjadi penyerangan oleh para penjahat kanibal ke Negeri Sana. Kepala rampok memerintahkan anak buahnya untuk menangkapi semua pemuda untuk dijadikan makanan mereka. Para penjahat itu percaya, daging pemuda akan membuat mereka tambah kuat.
Semua ditangkapi, kecuali sang anak yang bertangan buntung ! Karena dalam kepercayaan mereka, jika makan daging dari manusia bertubuh cacat akan membawa petaka.
Setelah para rampok kanibal itu pergi membawa para pemuda yang bertubuh lengkap, orang-orang kemudian berkumpul membicarakan keuntungan sang anak tadi.
Untung Buntung, karena Buntung dia Untung tidak menjadi makanan penjahat kanibal !
Sang anak yang buntung pun meminta ma'af kepada orangtuanya dan bersyukur kepada Tuhan karena terlahir buntung. Semenjak itu dia berjanji untuk tidak lagi mengeluh dan sedih dengan kebuntungannya dan akan selalu mensyukuri anugerah yang telah diberikanNya.
Pembaca yang berbahagia...
Ilustrasi diatas adalah sebuah gambaran fenomena yang banyak terjadi di tengah kita.
Seringkali kita merasa kekurangan, bahkan merasa sangat kekurangan. Kita tenggelam dengan "rasa kekurangan" itu. Sehingga kita merasa bahwa Tuhan telah tidak adil kepada kita dan kita kemudian menjadi lupa mensyukuri nikmatNya yang lain.
Tetapi jika kita kemudian lebih melakukan jujur dalam melakukan KONTEMPLASI , perenungan, maka ternyata kemudian kita akan merasakan bahwa Allah SWT juga memberikan kelebihan yang mungkin lebih banyak kepada kita. Sementara untuk kekurangan kita, kita akan sampai pada keyakinan bahwa ada hikmah dibalik itu , dan kemudian akan baru bisa kita pahami seiring berjalannya waktu.
Kita tidak perlu menjalani kehidupan "buntung" untuk kemudian meyakini bahwa telah terlalu banyak nikmat yang Allah berikan.
Tidak perlu berhadapan dengan penjahat kanibal untuk meyakini bahwa kekurangan yang ada kita ada hikmahnya.
Yang perlu kita sadari dan yakini untuk kemudian kita amalkan adalah :
MEMPERBANYAK SYUKUR, karena SYUKUR akan MENAMBAH NIKMAT ALLAH , dan
TIDAK KUFUR NIKMAT agar TIDAK DIMURKAI ALLAH
Ma'afkan aku jika kurang syukurku
Ampuni aku akan kurang yakinnya aku akan nikmatMU
ya Allah
(maher zain)
wallahu'alam bisshawab
Pelatihan Kepemimpinan dan AMT BEM FE UNP
Insya Allah, pada hari ini BEM FE UNP mengadakan acara Pelatihan Kepemimpinan dan AMT untuk kalangan mahasiswa, yang bertempat di lt.4 gedung FE UNP (aula Prof. Kamaluddin).
Saya akan berpartisipasi, memfasilitasi, dan berbagi dengan para peserta lewat topik "Management".
Untuk para pembaca sekalian dapat mengunduh bahan yang akan saya sampaikan pada bagian download link
Selamat mengikuti pelatihan bagi para peserta
Selamat membaca bagi yang mendownload bahan yang sampaikan.
Komentar dan diskusi terkait topik dan bahasan tersebut saya tunggu.
Terimakasih.
Saya akan berpartisipasi, memfasilitasi, dan berbagi dengan para peserta lewat topik "Management".
Untuk para pembaca sekalian dapat mengunduh bahan yang akan saya sampaikan pada bagian download link
Selamat mengikuti pelatihan bagi para peserta
Selamat membaca bagi yang mendownload bahan yang sampaikan.
Komentar dan diskusi terkait topik dan bahasan tersebut saya tunggu.
Terimakasih.
Sabtu, 15 September 2012
An Innocent Prophet (pbuh)
Tak tahan juga untuk tidak ikut berpartisipasi atas "riak" yang ditimbulkan oleh film [apa memang pantas disebut film?] INNOCENCE OF MUSLIMS. Film yang hanya berdurasi sekitar 14 menit ini diunggah di Youtube oleh orang yang mengaku bernama Sam Bacile -- yang kemudian ditenggarai bernama asli Nakoula Basseley Nakoula (seorang Yahudi--kaum yang memang telah diperingatkan Allah SWT sebagai kaum yang tidak akan senang sebelum mengikuti "milah" mereka)
Terlepas dari katanya film tersebut sebenarnya berdurasi 2 jam dan dibuat sekitar tahun 2011 serta para pemain yang "katanya" tidak tahu bahwa film tersebut dimaksudkan untuk mendiskreditkan Muhammad SAW, maka yang jelas protes keras telah terjadi di Timur tengah dan negara-negara yang mayoritas masyarakatnya muslim. Bahkan di Libya telah jatuh korban jiwa dalam rangka menunjukkan kepada dunia, bahwa menghina nabi Muhammad adalah sebuah kekeliruan yang teramat besar.
Merupakan sebuah bentuk cinta kita kepada junjungan umat, Nabi Muhammad SAW, untuk tidak rela mengetahui beliau direndahkan seperti yang ditunjukkan oleh film tersebut. Sebagaimana juga saat Salman Rushdie melakukannya belasan tahun yang lalu, atau oleh Geert Wilders beberapa tahun yang lalu, kita SANGAT MENGUTUK apa yang telah mereka lakukan.
Walaupun dunia barat seakan-akan tidak serius menangani ketidaktoleransian ini ! (dibanding saat kepentingan mereka terganggu, maka mereka langsung bertindak mengatasnamakan demokrasi dan hak asasi manusia).
Biarlah orang-orang musyrik dan munafik berbuat seperti itu. Kita yakin balasan Allah SWT akan jauh lebih hebat. Jika tidak menimpa di dunia, mereka tidak akan bisa lari di akhirat kelak.
Pembaca yang berbahagia...
Tanpa bermaksud memperkeruh suasana. Rasanya kita sepakat bahwa toleransi beragama pantas dijunjung tinggi. Protes keras sekali lagi merupakan bentuk kecintaan umat muslim terhadap Rasul mereka. Meskipun tindakan anarkis dan jatuhnya korban kita sayangkan !. Tetapi karena begitu sensitifnya masalah ini, maka pihak-pihak yang berwenang harus segera mengambil sikap.
Sebelum lebih jauh, dua catatan yang bisa saya sampaikan terkait film tersebut :
1. Judul Innocence of Muslims mengandung kejanggalan sebab kata innocence of digabung dengan kata muslims ? Bukankah bahasa Inggris yang tepatnya adalah moslems ? Atau ada maksud lain?
2. Film tersebut sangat TIDAK LAYAK tonton, karena selain isinya yang penuh KEBOHONGAN , kualitasnya pun luar biasa jelek !
Rasulullah SAW adalah orang yang terbebas dari dosa (maksum), sehingga sangat tidak mungkin ada perbuatan beliau yang perlu dipertanyakan. Sebagai umat nabi Muhammad, merupakan kewajiban kita untuk senantiasa menjaga dan melaksanakan apa-apa yang telah beliau ajarkan.
Kasih sayang Rasul pada kita tidak akan bisa kita balas.
Curahan syafaat dari beliau sangat kita harapkan di hari yang tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan kita selain syafaat beliau
Mari kita hidupkan kecintaan kepada beliau, dengan senantiasa memberikan shalawat dan salam kepada beliau serta dengan menjadikannya sebagai teladan dalam kehidupan kita
Mari tunjukkan kecintaan pada Rasul yang masih mengingat kita umatnya, saat beliau sakaratul maut.
[Insya Allah, tulisan yang saya posting merupakan bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW]
Semoga Allah mengumpulkan kita kelak bersama-sama beliau di surgaNya kelak.
Aamiin..
Terlepas dari katanya film tersebut sebenarnya berdurasi 2 jam dan dibuat sekitar tahun 2011 serta para pemain yang "katanya" tidak tahu bahwa film tersebut dimaksudkan untuk mendiskreditkan Muhammad SAW, maka yang jelas protes keras telah terjadi di Timur tengah dan negara-negara yang mayoritas masyarakatnya muslim. Bahkan di Libya telah jatuh korban jiwa dalam rangka menunjukkan kepada dunia, bahwa menghina nabi Muhammad adalah sebuah kekeliruan yang teramat besar.
Merupakan sebuah bentuk cinta kita kepada junjungan umat, Nabi Muhammad SAW, untuk tidak rela mengetahui beliau direndahkan seperti yang ditunjukkan oleh film tersebut. Sebagaimana juga saat Salman Rushdie melakukannya belasan tahun yang lalu, atau oleh Geert Wilders beberapa tahun yang lalu, kita SANGAT MENGUTUK apa yang telah mereka lakukan.
Walaupun dunia barat seakan-akan tidak serius menangani ketidaktoleransian ini ! (dibanding saat kepentingan mereka terganggu, maka mereka langsung bertindak mengatasnamakan demokrasi dan hak asasi manusia).
Biarlah orang-orang musyrik dan munafik berbuat seperti itu. Kita yakin balasan Allah SWT akan jauh lebih hebat. Jika tidak menimpa di dunia, mereka tidak akan bisa lari di akhirat kelak.
Pembaca yang berbahagia...
Tanpa bermaksud memperkeruh suasana. Rasanya kita sepakat bahwa toleransi beragama pantas dijunjung tinggi. Protes keras sekali lagi merupakan bentuk kecintaan umat muslim terhadap Rasul mereka. Meskipun tindakan anarkis dan jatuhnya korban kita sayangkan !. Tetapi karena begitu sensitifnya masalah ini, maka pihak-pihak yang berwenang harus segera mengambil sikap.
Sebelum lebih jauh, dua catatan yang bisa saya sampaikan terkait film tersebut :
1. Judul Innocence of Muslims mengandung kejanggalan sebab kata innocence of digabung dengan kata muslims ? Bukankah bahasa Inggris yang tepatnya adalah moslems ? Atau ada maksud lain?
2. Film tersebut sangat TIDAK LAYAK tonton, karena selain isinya yang penuh KEBOHONGAN , kualitasnya pun luar biasa jelek !
Rasulullah SAW adalah orang yang terbebas dari dosa (maksum), sehingga sangat tidak mungkin ada perbuatan beliau yang perlu dipertanyakan. Sebagai umat nabi Muhammad, merupakan kewajiban kita untuk senantiasa menjaga dan melaksanakan apa-apa yang telah beliau ajarkan.
Kasih sayang Rasul pada kita tidak akan bisa kita balas.
Curahan syafaat dari beliau sangat kita harapkan di hari yang tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan kita selain syafaat beliau
Mari kita hidupkan kecintaan kepada beliau, dengan senantiasa memberikan shalawat dan salam kepada beliau serta dengan menjadikannya sebagai teladan dalam kehidupan kita
Mari tunjukkan kecintaan pada Rasul yang masih mengingat kita umatnya, saat beliau sakaratul maut.
[Insya Allah, tulisan yang saya posting merupakan bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW]
Semoga Allah mengumpulkan kita kelak bersama-sama beliau di surgaNya kelak.
Aamiin..
Seminar Nasional : Menuju Indonesia Emas
Bapak Gubernur Sumbar sedang memberikan sambutan pada acara pembukaan Seminar Nasional
(sumber foto: perengki.unp@gmail.com)
(sumber foto: perengki.unp@gmail.com)
Bertempat di aula Prof. Kamaluddin, lantai 4, gedung Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang, pada hari ini Sabtu 15 September 2012, berlangsung acara seminar yang diprakarsai Program Studi Ekonomi Pembangunan FE UNP dengan tajuk ; MENUJU INDONESIA EMAS : TANTANGAN DAN PROSPEK EKONOMI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Dihadiri ratusan peserta yang terdiri dari para akademisi, pelaku perekonomian, dan mahasiswa, acara Seminar Nasional ini menghadirkan keynote speech dari Prof. Armida Salsiah Alisjahbana, SE, MA, Ph.D (Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas) , dan panelis : (1) Dr. Harry Azhar Aziz, MA (ekonom dan wakil ketua komisi XI DPR RI) dan (2) Prof.Dr. Syamsul Amar B, MS (guru besar FE UNP).
Acara Seminar Nasional dibuka oleh Gubernur Sumatera Barat, Prof. Dr. Irwan Prayitno. Dalam sambutannya Bapak Gubernur antara lain menyampaikan :
>> Perekonomian Sumbar agak berbeda dengan daerah lain. Dengan karakter penduduk yang khas dan alam Sumbar yang
sangat terbatas, maka banyak masyarakat Sumbar yang merantau. Usaha yang
ada umumnya skalanya mikro kecil (lebih dari 90%). Agak sulit mendatangkan investasi di
Sumbar, dibanding daerah lain yang padat modal dan padat karya.Usaha-usaha yang sekarang ada pun di Sumbar banyak yang mempekerjakan
bukan masyarakat Minang.Untuk itu penekanan pembangunan perekonomian Sumbar adalah dari sisi manajemennya, dan
pendekatan ke usaha home industry. Pemerintah Sumbar melakukan strategi yang menyesuaikan
dengan karakter dan kondisi yang ada di Sumbar. Teori-teori ekonomi yang ada agak sedikit “tidak
jalan” di Sumbar. Artinya, banyak tantangan global yang tidak begitu
berpengaruh untuk perekonomian Sumbar.
Sebagai gambaran , pertumbuhan ekonomi Sumbar, agak mendekati pertumbuhan
ekonomi nasional, terutama pasca gempa 2009 (pernah mencapai angka 7,19%). Namun cenderung menurun pada tahun-tahun berikutnya. Mungkin ini
karena akibat masuknya dana rehab rekonstruksi yang secara langsung "sepertinya" meningkatkan perekonomian Sumbar. Tetapi beberapa tahun terakhir (tahun 2011 "hanya" 6,2%) perekonomian Sumbar tidak lagi menggeliat akibat karakter "khas" tadi.
Pemerintah (demikian disampaikan Gubernur) akan mencoba menyusun stategi yang tepat sesuai karakter masyarakat dan kondisi alam serta keadaan Sumbar saat ini agar perekonomian Sumbar dapat berkembang dan menghadapi berbagai tantangan kedepan >>
Dengan mengucapkan basmallah, maka Bapak Gubernur membuka acara Seminar Nasional yang direncanakan akan berjalan sampai sore nanti (ada acara parallel session).
Mudah-mudahan acara ini diberkahi Allah SWT dan dapat memberikan kontribusi terhadap perekonomian Sumatera Barat.
Terimakasih atas kerja keras Bapak/Ibu panitia dan seluruh pihak yang mendukung terlaksananya acara Seminar Nasional ini.
Sampai tulisan ini di posting, masih berjalan acara panelis yang diikuti secara serius oleh para peserta.
I'm Tired !
Saya mengambil judul diatas terinspirasi oleh tayangan reality show Face-Off edisi 11/9/2012, yang ditayangkan channel beTV (salah satu channel yang di provide oleh penyedia tv berbayar). Sebuah acara kompetisi untuk para calon design make-up artist dan penciptaan karakter-karakter spesial (sehingga kita di film akan melihat sosok monster, zombie, dan lainnya).
Dalam episode yang sudah memasuki eliminasi akhir sebelum grand-final, seorang peserta ketika memasuki tahap penciptaan sebuah karakter, ternyata tidak berhasil membuat para juri terkesan. Ketika ditanya, Megan (nama peserta itu) menjawab bahwa alasan dia tidak maksimal adalah karena kelelahan. I'm tired ! demikian dia mengulang kata-kata tersebut sampai tiga kali.
Kompetisi yang menguras emosi dan tenaga tersebut memang dilakukan maraton sehingga tidak dipungkiri rasa lelah pasti dirasakan para peserta. Manusiawi menurut kita. Tetapi tidak untuk para juri !
Seorang kontestan HARAM untuk menjadikan alasan lelah untuk performa buruk yang dilakukannya. Siapa yang tidak lelah ?! Tetapi dalam sebuah kompetisi, alasan lelah tidak bisa diterima !
Pembaca yang berbahagia...
Ilustrasi diatas menjadi pengantar atas sharing saya kali ini berkaitan dengan KOMPETISI DALAM KEHIDUPAN. Mungkint seakan-akan "lebay" dengan mengatakan bahwa kita menjalani kompetisi dalam kehidupan ini, tetapi demikianlah adanya.Ketika masih dalam proses pembuahan sel telur oleh sel spermatozoid orang tua kita, kita sebenarnya telah melakukan sebuah kompetisi. Pemenang dari proses yang melelahkan dalam kejadian pembuahan itu adalah KITA. Anda atau saya, alhamdulillah lahir dengan selamat kira-kira 9 bulan sejak peristiwa "hebat" itu.
Perjalanan hidup yang kemudian kita jalani kemudian, sebenarnya juga merupakan kompetisi/persaingan. Saat kita bayi sampai sekarang, bukankah secara tidak kita sadari, tubuh dan seluruh sistem yang ada didalamnya telah melakukan "pertempuran" melawan berbagai serangan bibit penyakit ? Dengan usaha terbaik orangtua kita, ikhtiar memilih makanan yang halal dan baik, serta tentu saja atas ijinNya , maka sebagian besar kita sampai saat ini masih sehat wal'afiat.
Saat masuk sekolah, tidak terhitung kita telah melakukan berbagai kompetisi. Kompetisi untuk jadi yang terbaik di kelas, kompetisi untuk masuk sekolah yang lebih tinggi (SMP, SMA, Perguruan Tinggi). Kemudian kompetisi untuk mendapatkan pekerjaan. Kompetisi untuk memperoleh pendamping hidup dan demikian seterusnya, Hidup adalah persaingan dan sudah seharusnya kita berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat!).
Lalu apakah dalam rangkaian perlombaan dan kompetisi tersebut kita tidak bisa lelah ? Tentu saja bisa ! Tetapi kelelahan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan pembenaran atas ketidakmaksimalan upaya kita. Kitalah "tuan"atas diri kita sendiri. Atur dan jagalah tubuh dan jiwa yang ada di dalamnya untuk senantiasa SIAP dalam setiap kompetisi.
Seandainya kelelahan tidak dapat dihindari, jangan kemudian di sampaikan dan menjadi alasan pembenaran (seperti kasus diatas). Orang-orang akan memandang kita TIDAK SEMANGAT dan seakan-akan MENYERAH terhadap perjuangan yang kita lakukan. Sekali lagi manusiawi sekali jika kita merasa lelah, tetapi sekali lagi juga, tidak untuk menjadi dalil pembenaran !
Akhir kehidupan yang fana adalah kematian dan kehidupan setelah itu. Semoga kita senantiasa termotivasi unuk TERUS berbuat yang terbaik, menjadi yang terbaik dalam setiap amalan kebaikan yang kita lakukan, selalu berusaha menjadi bagian dalam kelompok orang-orang yang nomor satu menentang kemungkaran, menjadi yang terdepan dalam bidang keilmuan kita masing-masing agar bisa berkontribusi dalam pembangunan masyarakat dan bangsa ini. Insya Allah...
Saya kutip apa yang pernah dikatakan Napoleon Bonaparte dengan sedikit perubahan :
Jika ada 1000 orang yang akan melakukan kebaikan, maka saya adalah salah satunya.
Jika ada 100 orang yang akan melakukan kebaikan, maka saya adalah salah satunya.
Jika ada 10 orang yang akan melakukan kebaikan, maka saya adalah salah satunya.
Jika hanya ada 1 orang saja yang akan melakukan kebaikan, maka saya adalah orangnya !
Salam..
Dalam episode yang sudah memasuki eliminasi akhir sebelum grand-final, seorang peserta ketika memasuki tahap penciptaan sebuah karakter, ternyata tidak berhasil membuat para juri terkesan. Ketika ditanya, Megan (nama peserta itu) menjawab bahwa alasan dia tidak maksimal adalah karena kelelahan. I'm tired ! demikian dia mengulang kata-kata tersebut sampai tiga kali.
Kompetisi yang menguras emosi dan tenaga tersebut memang dilakukan maraton sehingga tidak dipungkiri rasa lelah pasti dirasakan para peserta. Manusiawi menurut kita. Tetapi tidak untuk para juri !
Seorang kontestan HARAM untuk menjadikan alasan lelah untuk performa buruk yang dilakukannya. Siapa yang tidak lelah ?! Tetapi dalam sebuah kompetisi, alasan lelah tidak bisa diterima !
Pembaca yang berbahagia...
Ilustrasi diatas menjadi pengantar atas sharing saya kali ini berkaitan dengan KOMPETISI DALAM KEHIDUPAN. Mungkint seakan-akan "lebay" dengan mengatakan bahwa kita menjalani kompetisi dalam kehidupan ini, tetapi demikianlah adanya.Ketika masih dalam proses pembuahan sel telur oleh sel spermatozoid orang tua kita, kita sebenarnya telah melakukan sebuah kompetisi. Pemenang dari proses yang melelahkan dalam kejadian pembuahan itu adalah KITA. Anda atau saya, alhamdulillah lahir dengan selamat kira-kira 9 bulan sejak peristiwa "hebat" itu.
Perjalanan hidup yang kemudian kita jalani kemudian, sebenarnya juga merupakan kompetisi/persaingan. Saat kita bayi sampai sekarang, bukankah secara tidak kita sadari, tubuh dan seluruh sistem yang ada didalamnya telah melakukan "pertempuran" melawan berbagai serangan bibit penyakit ? Dengan usaha terbaik orangtua kita, ikhtiar memilih makanan yang halal dan baik, serta tentu saja atas ijinNya , maka sebagian besar kita sampai saat ini masih sehat wal'afiat.
Saat masuk sekolah, tidak terhitung kita telah melakukan berbagai kompetisi. Kompetisi untuk jadi yang terbaik di kelas, kompetisi untuk masuk sekolah yang lebih tinggi (SMP, SMA, Perguruan Tinggi). Kemudian kompetisi untuk mendapatkan pekerjaan. Kompetisi untuk memperoleh pendamping hidup dan demikian seterusnya, Hidup adalah persaingan dan sudah seharusnya kita berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat!).
Lalu apakah dalam rangkaian perlombaan dan kompetisi tersebut kita tidak bisa lelah ? Tentu saja bisa ! Tetapi kelelahan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan pembenaran atas ketidakmaksimalan upaya kita. Kitalah "tuan"atas diri kita sendiri. Atur dan jagalah tubuh dan jiwa yang ada di dalamnya untuk senantiasa SIAP dalam setiap kompetisi.
Seandainya kelelahan tidak dapat dihindari, jangan kemudian di sampaikan dan menjadi alasan pembenaran (seperti kasus diatas). Orang-orang akan memandang kita TIDAK SEMANGAT dan seakan-akan MENYERAH terhadap perjuangan yang kita lakukan. Sekali lagi manusiawi sekali jika kita merasa lelah, tetapi sekali lagi juga, tidak untuk menjadi dalil pembenaran !
Akhir kehidupan yang fana adalah kematian dan kehidupan setelah itu. Semoga kita senantiasa termotivasi unuk TERUS berbuat yang terbaik, menjadi yang terbaik dalam setiap amalan kebaikan yang kita lakukan, selalu berusaha menjadi bagian dalam kelompok orang-orang yang nomor satu menentang kemungkaran, menjadi yang terdepan dalam bidang keilmuan kita masing-masing agar bisa berkontribusi dalam pembangunan masyarakat dan bangsa ini. Insya Allah...
Saya kutip apa yang pernah dikatakan Napoleon Bonaparte dengan sedikit perubahan :
Jika ada 1000 orang yang akan melakukan kebaikan, maka saya adalah salah satunya.
Jika ada 100 orang yang akan melakukan kebaikan, maka saya adalah salah satunya.
Jika ada 10 orang yang akan melakukan kebaikan, maka saya adalah salah satunya.
Jika hanya ada 1 orang saja yang akan melakukan kebaikan, maka saya adalah orangnya !
Salam..
Kamis, 13 September 2012
Cerita di Bandara Narita
Semi visualisasi atas kisah yang akan saya share kali ini pernah beredar di internet, dengan bahasa Inggris dan diiringi musik latar yang sayup-sayup. Sudah cukup lama, tetapi cukup meninggalkan bekas yang dalam.Hal yang kemudian memotivasi saya untuk mentransformasinya menjadi sebuah cerita tertulis, karena ; (1) cerita tersebut dapat dinikmati bagi penyuka bahasa tulis, (2) cerita tersebut mungkin akan "lebih" berkembang ketika diwujudkan dalam bentuk narasi, dan (3) mungkin bisa memberikan variasi lain, dibanding versi aslinya.
Secara substansi mungkin sama, tapi dari alur penuturan dan penokohan sedikit berbeda.
Bagi yang sudah pernah tahu versi semi-visualisasinya atau pun bagi yang belum tahu sama sekali, saya ucapkan selamat mengikuti. Nilai moral dari cerita ini merupakan bagian yang lebih penting dari sekedar frase yang ada.
======
Bandara Narita, Tokyo.Suasana bandara yang terletak di prefektur Chiba, Jepang ini selalu ramai oleh para penumpang. Nena (sebut saja demikian, perempuan sekitar 20-an) bergegas untuk melakukan check-in untuk penerbangan yang ingin ia lakukan. Setelah antri sekian waktu, akhirnya ia selesai dengan administrasi pelaporan tersebut dan kemudian menuju gate yang tertera pada boarding pass yang ia miliki.
Berhubung waktu yang tersedia masih agak panjang, maka Nena kemudian memutuskan untuk berbelanja di store yang ada di sekitar gate tersebut. Setelah membayar cemilan dan sebuah majalah, ia pun kemudian menuju deretan bangku yang tersedia.
Nena pada dasarnya "tukang baca", sehingga sambil membaca majalah yang baru ia beli, lalu mengambil bangku kosong yang masih ada. Di sebelahnya duduk seorang perempuan lain yang menurut ia, tidak terlalu jauh berbeda dengan dirinya. Berjilbab panjang berwarna putih.Perempuan itu juga terlihat sedang asyik membaca.
Beberapa saat setelah diantara mereka sama-sama asyik membaca dengan majalah/bukunya, Nena kemudian melihat perempuan itu mengambil isi kantong cemilan yang ada di antara kursi mereka. Nena langsung merasa bete sambil ngedumel "dasar, main ambil aja "! Nena menahan diri untuk tidak marah, lalu ia pun ikut mengambil isi cemilan tersebut, tanpa merubah posisi kantongnya.
Tidak lama selesai Nena mengambil satu cemilan tersebut, perempuan itu pun mengambil lagi,sambil tetap meneruskan bacaannya. Nena semakin gondok, ia kemudian mengatakan pada dirinya , "jika perempuan berkerudung ini masih terus mengambil cemilan tersebut tanpa ijinnya , maka ia akan tidak akan segan-segan melabraknya dan mengatakan bahwa jilbab perempuan itu hanya kamuflase atas perilakunya yang buruk"!
Tak terasa, isi kantong cemilan itu tinggal sedikit. Bergantian Nena dan perempuan itu mengambil isinya. Tetapi Nena tidak sanggup menumpahkan kemarahannya. Dengan hati betul-betul KESAL, akhirnya Nena mengambil bawaannnya dan masuk ke gate tempat dimana pesawatnya berada. Tidak lama, Nena dan para penumpang lain dipersilahkan masuk pesawat.
Nena bersyukur, ternyata perempuan itu tidak satu pesawat dengannya, "kurang ajar betul , Berani-beraninya mengambil tanpa ijinku, untung aku tidak marah!" demikian Nena berkata dalam hatinya.
Begitu masuk pesawat, Nena menaruh tasnya pada cabin bagian atas. Tetapi sebelumnya ia ingin mengambil kacamatanya, karena biasanya ia merasa kesulitan membaca di dalam pesawat tanpa bantuan kacamata.
Saat mencari kacamata, Nena mendapati bungkusan yang membuat hatinya berdetak keras.
Sebungkus cemilan yang belum terbuka !
Cemilan yang ia beli saat di store sebelum masuk gate !
Cemilan yang ia yakin betul telah ia makan saat membaca !
Cemilan yang tadi ia "perebutkan" dengan perempuan yang duduk disebelahnya !
..........
Terhenyak Nena mengetahui bahwa ia ternyata tidak pernah mengeluarkan cemilan tersebut begitu ia selesai membayar pada kasir store.
Ia sadar sepenuhnya sekarang, bahwa ia memang langsung memasukkan cemilan tersebut kedalam tas, dan ia tenggelam dalam bacaan majalah yang ia beli.
Menyadari bahwa ia telah SALAH BESAR, Nena menangis! Karena sebenarnya bukan perempuan tadi yang "mencuri" tetapi ia lah yang mengambil milik orang lain tanpa ijin.
Sebenarnya dirinyalah yang TIDAK TAHU MALU, kesal dan marah untuk sesuatu yang seharusnya ia tidak lakukan.
Betapa mulianya perempuan tadi, tidak marah saat cemilannya diambil.
Membiarkan orang lain menikmati haknya, tanpa harus marah dan kesal !
Nena merasa begitu menyesal. Betapa kerdil dan picik dirinya !
Nena tidak tahu kapan ia bisa bertemu untuk MINTA MA'AF sekaligus BERTERIMAKASIH kepada perempuan berjilbab itu. Hanya tinggal rasa sesal yang begitu dalam.
Penyesalan yang berlapis-lapis karena ia telah mengira yang bukan-bukan akan agama perempuan tersebut.
Ternyata anggapannya salah. Ternyata perempuan muslim tersebut memang baik adanya.
Airmatanya jatuh berlinang sementara pesawat yang membawanya melaju menembus awan.
Pembaca yang berbahagia...
Cerita diatas mungkin menjadi cerminan diri kita. Cermin atas "kekhilafan" yang mungkin kita lakukan akibat TIDAK TELITI dan TIDAK PEDULInya kita terhadap sekeliling kita. Lupa mungkin manusiawi, tetapi ketika ada momen dimana kita seharusnya TIDAK SOMBONG, atau seharusnya TIDAK BERSIKAP PELIT, dan MAU BERBAGI , maka seharusnya MEMANG itu yang kita lakukan. Tidak lalu menjadi orang yang angkuh dan sejenisnya. Bahkan ketika kita mencap seseorang atas sesuatu yang bukan dirinya! Bukankah itu sebuah prasangka yang tidak ada dasarnya ?!
Apa salahnya Nena untuk bersikap ramah ? Apa gunanya ia langsung pergi sambil memendam kekesalan ?
Bukankah ia sebaiknya mencoba bersilaturrahim ?
Mungkin dengan sikap yang lebih ramah, ia tidak akan menanggung malu sedemikian rupa !
Tidak berprasangka yang bukan-bukan !
Alasan bahwa jaman sekarang adalah jaman yang harusnya disikapi dengan hati-hati adalah betul ! Tetapi sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial, adalah sebuah "keanehan" ketika sifat individualis dan kecerobohan menjadi "pakaian" kita sehari-hari, Bahkan dalam kitab suci dikatakan bahwa diciptakannya kita berbangsa dan bersuku-suku adalah agar saling mengenal. Mengapa kita menjadi "Nena" yang tidak mau mengenal seseorang ?
Tokoh Nena hanyalah pemisalan, Bandara Narita juga hanyalah contoh setingan tempat yang tidak perlu dimaknai lebih jauh.
Saya mengajak kita semua untuk senantiasa melakukan intropeksi. Apakah kita pernah menjadi "Nena" seperti cerita diatas ? Kalau pernah, mari kita perbaiki diri. Kalau belum, mudah-mudahan kita memang tidak pernah memiliki sifat seperti itu.
Mari kita mencoba menjadi perempuan "tanpa nama" diatas, yang ikhlas membiarkan "cemilannya" diambil oleh orang yang "membutuhkan"
Salam,
Secara substansi mungkin sama, tapi dari alur penuturan dan penokohan sedikit berbeda.
Bagi yang sudah pernah tahu versi semi-visualisasinya atau pun bagi yang belum tahu sama sekali, saya ucapkan selamat mengikuti. Nilai moral dari cerita ini merupakan bagian yang lebih penting dari sekedar frase yang ada.
======
Bandara Narita, Tokyo.Suasana bandara yang terletak di prefektur Chiba, Jepang ini selalu ramai oleh para penumpang. Nena (sebut saja demikian, perempuan sekitar 20-an) bergegas untuk melakukan check-in untuk penerbangan yang ingin ia lakukan. Setelah antri sekian waktu, akhirnya ia selesai dengan administrasi pelaporan tersebut dan kemudian menuju gate yang tertera pada boarding pass yang ia miliki.
Berhubung waktu yang tersedia masih agak panjang, maka Nena kemudian memutuskan untuk berbelanja di store yang ada di sekitar gate tersebut. Setelah membayar cemilan dan sebuah majalah, ia pun kemudian menuju deretan bangku yang tersedia.
Nena pada dasarnya "tukang baca", sehingga sambil membaca majalah yang baru ia beli, lalu mengambil bangku kosong yang masih ada. Di sebelahnya duduk seorang perempuan lain yang menurut ia, tidak terlalu jauh berbeda dengan dirinya. Berjilbab panjang berwarna putih.Perempuan itu juga terlihat sedang asyik membaca.
Beberapa saat setelah diantara mereka sama-sama asyik membaca dengan majalah/bukunya, Nena kemudian melihat perempuan itu mengambil isi kantong cemilan yang ada di antara kursi mereka. Nena langsung merasa bete sambil ngedumel "dasar, main ambil aja "! Nena menahan diri untuk tidak marah, lalu ia pun ikut mengambil isi cemilan tersebut, tanpa merubah posisi kantongnya.
Tidak lama selesai Nena mengambil satu cemilan tersebut, perempuan itu pun mengambil lagi,sambil tetap meneruskan bacaannya. Nena semakin gondok, ia kemudian mengatakan pada dirinya , "jika perempuan berkerudung ini masih terus mengambil cemilan tersebut tanpa ijinnya , maka ia akan tidak akan segan-segan melabraknya dan mengatakan bahwa jilbab perempuan itu hanya kamuflase atas perilakunya yang buruk"!
Tak terasa, isi kantong cemilan itu tinggal sedikit. Bergantian Nena dan perempuan itu mengambil isinya. Tetapi Nena tidak sanggup menumpahkan kemarahannya. Dengan hati betul-betul KESAL, akhirnya Nena mengambil bawaannnya dan masuk ke gate tempat dimana pesawatnya berada. Tidak lama, Nena dan para penumpang lain dipersilahkan masuk pesawat.
Nena bersyukur, ternyata perempuan itu tidak satu pesawat dengannya, "kurang ajar betul , Berani-beraninya mengambil tanpa ijinku, untung aku tidak marah!" demikian Nena berkata dalam hatinya.
Begitu masuk pesawat, Nena menaruh tasnya pada cabin bagian atas. Tetapi sebelumnya ia ingin mengambil kacamatanya, karena biasanya ia merasa kesulitan membaca di dalam pesawat tanpa bantuan kacamata.
Saat mencari kacamata, Nena mendapati bungkusan yang membuat hatinya berdetak keras.
Sebungkus cemilan yang belum terbuka !
Cemilan yang ia beli saat di store sebelum masuk gate !
Cemilan yang ia yakin betul telah ia makan saat membaca !
Cemilan yang tadi ia "perebutkan" dengan perempuan yang duduk disebelahnya !
..........
Terhenyak Nena mengetahui bahwa ia ternyata tidak pernah mengeluarkan cemilan tersebut begitu ia selesai membayar pada kasir store.
Ia sadar sepenuhnya sekarang, bahwa ia memang langsung memasukkan cemilan tersebut kedalam tas, dan ia tenggelam dalam bacaan majalah yang ia beli.
Menyadari bahwa ia telah SALAH BESAR, Nena menangis! Karena sebenarnya bukan perempuan tadi yang "mencuri" tetapi ia lah yang mengambil milik orang lain tanpa ijin.
Sebenarnya dirinyalah yang TIDAK TAHU MALU, kesal dan marah untuk sesuatu yang seharusnya ia tidak lakukan.
Betapa mulianya perempuan tadi, tidak marah saat cemilannya diambil.
Membiarkan orang lain menikmati haknya, tanpa harus marah dan kesal !
Nena merasa begitu menyesal. Betapa kerdil dan picik dirinya !
Nena tidak tahu kapan ia bisa bertemu untuk MINTA MA'AF sekaligus BERTERIMAKASIH kepada perempuan berjilbab itu. Hanya tinggal rasa sesal yang begitu dalam.
Penyesalan yang berlapis-lapis karena ia telah mengira yang bukan-bukan akan agama perempuan tersebut.
Ternyata anggapannya salah. Ternyata perempuan muslim tersebut memang baik adanya.
Airmatanya jatuh berlinang sementara pesawat yang membawanya melaju menembus awan.
Pembaca yang berbahagia...
Cerita diatas mungkin menjadi cerminan diri kita. Cermin atas "kekhilafan" yang mungkin kita lakukan akibat TIDAK TELITI dan TIDAK PEDULInya kita terhadap sekeliling kita. Lupa mungkin manusiawi, tetapi ketika ada momen dimana kita seharusnya TIDAK SOMBONG, atau seharusnya TIDAK BERSIKAP PELIT, dan MAU BERBAGI , maka seharusnya MEMANG itu yang kita lakukan. Tidak lalu menjadi orang yang angkuh dan sejenisnya. Bahkan ketika kita mencap seseorang atas sesuatu yang bukan dirinya! Bukankah itu sebuah prasangka yang tidak ada dasarnya ?!
Apa salahnya Nena untuk bersikap ramah ? Apa gunanya ia langsung pergi sambil memendam kekesalan ?
Bukankah ia sebaiknya mencoba bersilaturrahim ?
Mungkin dengan sikap yang lebih ramah, ia tidak akan menanggung malu sedemikian rupa !
Tidak berprasangka yang bukan-bukan !
Alasan bahwa jaman sekarang adalah jaman yang harusnya disikapi dengan hati-hati adalah betul ! Tetapi sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial, adalah sebuah "keanehan" ketika sifat individualis dan kecerobohan menjadi "pakaian" kita sehari-hari, Bahkan dalam kitab suci dikatakan bahwa diciptakannya kita berbangsa dan bersuku-suku adalah agar saling mengenal. Mengapa kita menjadi "Nena" yang tidak mau mengenal seseorang ?
Tokoh Nena hanyalah pemisalan, Bandara Narita juga hanyalah contoh setingan tempat yang tidak perlu dimaknai lebih jauh.
Saya mengajak kita semua untuk senantiasa melakukan intropeksi. Apakah kita pernah menjadi "Nena" seperti cerita diatas ? Kalau pernah, mari kita perbaiki diri. Kalau belum, mudah-mudahan kita memang tidak pernah memiliki sifat seperti itu.
Mari kita mencoba menjadi perempuan "tanpa nama" diatas, yang ikhlas membiarkan "cemilannya" diambil oleh orang yang "membutuhkan"
Salam,
Langganan:
Postingan (Atom)
