Dikisahkan pada zaman Rasulullah, ketika para sahabat sedang menunggu masuknya waktu Isya, selepas majelis ilmu yang dilakukan oleh Rasulullah, maka Rasul berkata bahwa akan masuk sebentar lagi ahli surga. Para sahabat kemudian penasaran menunggu siapa yang akan masuk masjid dan dikatakan Rasul sebagai ahli surga. Tidak lama kemudian, masuklah seseorang dari golongan Anshar, yang sebagian besar sahabat tidak begitu mengenalnya.
Lalu setelah shalat Isya berjama'ah, Abdullah bin Umar (salah seorang sahabat yang hadir) yang begitu penasaran dengan informasi Rasul tersebut kemudian mendatangi "calon penghuni surga" tersebut.
Dengan alasan ingin menumpang tidur selama 3 hari karena sedang ada masalah dengan pihak keluarganya [karena dalam Islam tidak diperbolehkan tidak bertegur sapa lebih dari 3 hari--dan juga Abdullah bin Umar minta 3 hari, karena kita akan dapat mengenal seseorang secara mendalam paling tidak telah bersama selama 3 hari >>> sebab itulah seorang muslim dilarang untuk "sok tahu" tentang saudaranya jika belum terlalu mengenal], maka Abdullah bin Umar pun diijinkan menginap dirumah lelaki Anshar tersebut.
Selama
tiga hari, diamatinya tingkah laku lelaki itu Setelah tiga hari tinggal di
rumah sahabat itu, Abdullah tidak menyaksikan kelebihan amalan sahabat
itu. Ia menyaksikan kehidupan bakal penghuni surga itu biasa-biasa saja, amalan
shalatnya pun biasa-biasa saja.
Ketika akan pamit, Abdullah akhirnya "mengaku"
“Saudaraku, sebenarnya aku tidak bermasalah dengan keluargaku,” kata Abdullah.
“Sebenarnya, ketika kami sedang berkumpul dengan Nabi
di masjid, beliau mengatakan bahwa sebentar lagi akan masuk calon
penghuni surga masuk ke masjid itu. Dan ternyata yang disebut-sebut
Rasulullah itu adalah kamu.”
“Benarkah demikian?” kata lelaki Anshar itu seakan-akan tidak percaya dan merendahkan diri. “Benar, Nabi
berkata begitu. Saya ingin tahu, apa sebenarnya amalan saudara sehingga
Rasulullah memastikan anda akan masuk surga?” tanya Abdullah.
“Tak ada amalan khusus". Beginilah kehidupan saya sehari-hari." berkata sahabat Anshar tersebut.
Mendengar jawaban itu, Abdullah semakin penasaran. “Masih
ada sesuatu yang anda rahasiakan kepadaku? Bukan ?!.”
Calon penghuni surga itu kemudian mengungkapkan apa adanya. “Sesungguhnya yang aku amalkan dari ajaran Nabi
adalah sama dengan yang diamalkan muslim lainnya. Tetapi aku berusaha sekuat tenaga tidak akan melakukan perbuatan
yang merugikan sesama kaum Muslimin. Aku akan selalu berusaha membersihkan
hatiku dengan tidak pernah memiliki sifat iri hati serta menaruh rasa dengki
dan hasad kepada orang lain sepanjang hidupku. Apalagi hasad terhadap
kenikmatan yang diterima orang lain.Itu yang senantiasa ku lakukan menjelang hari berakhir saat mau tidur. Artinya aku tidak mau tidur saat masih menyimpan iri dan hasad.
Subhanallah, rupanya inilah amalan unggulan (the best) yang telah menjadikan orang ini mendapat
kemuliaan di surga,” kata Abdullah di dalam hati sambil berpamitan
Pembaca yang berbahagia...
Ternyata sesorang akan dapat memasuki surgaNya Allah ketika memiliki sesuatu yang spesial !
Amalan unggulan. Amalan terbaik yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.
Betapa sahabat Anshar tadi, secara amalan mahdah/ritual tidaklah istimewa, tetapi hatinya bersih dari hasad, iri hati dan dengki.[sebuah penyakit hati yang rasanya banyak dan mendominasi sebagian besar kita. Na'udzubillahmindzalik!]
Akankah kita dapat mengikuti sahabat Anshar diatas ?
Atau bagaimana Rasul mengatakan mendengar terompah Bilal di surga (saat perjalanan isra' mi'raj), ternyata setelah diperhatikan amalan unggulan Bilal yang senantiasa dilakukannya secara istiqamah adalah shalat sunat setelah wudhu'. Masya Allah..
Akankah kita dapat melakukannya ?
Mari pembaca, mari kita memperhatikan amalan-amalan kita
Ibadah wajib tentu sudah harus baik
Ibadah sunat , amal sholeh lain serta kebersihan hati tentu yang akan membuat kita "lebih" dari yang sekedar biasa saja (mereka yang hanya mengerjakan kewajiban semata!)
Mari kita memiliki sesuatu yang bisa kita BANGGAKAN [bukan perasaan riya' tapi sebagai bentuk syukur dan kebanggaan kita menjadi hambaNya]
Sesuatu yang terbaik dari dirimu !
Sabtu, 29 September 2012
Jumat, 28 September 2012
Forecasting>>Sales Budget>>Unit to be Produced Budget (Part 2)
...lanjutan part 1.
Hasil forecast yang dilakukan merupakan angka sales level (tingkat penjualan) yang ingin dilakukan pada periode yang di prediksi/rencanakan. Forecast kadang juga dilakukan atas harga yang mungkin akan mengalami perubahan di masa yang akan datang (dengan melihat historis pergerakan harga).
Biasanya HANYA untuk menentukan nilai penjualan saja forecast dilakukan (dalam kegiatan penyusunan budget), hal ini disebabkan budget-budget yang lain nantinya akan menurunkan " angka" pada Sales Budget.
Budget penjualan secara sederhana dapat didefinisikan sebagai rencana penjualan perusahaan yang detail, terperinci untuk jangka waktu tertentu di masa yang akan datang.
Banyak faktor yang mempengaruhi penyusunan budget ini, namun secara umum dikelompokkan menjadi dua faktor; eksternal (contohnya; persaingan, pertumbuhan penduduk) dan internal (contohnya; sumberdaya perusahaan, kebijakan perusahaan)
Mewujudkan budget penjualan terlebih dahulu harus diperoleh diperoleh beberapa informasi, diantaranya :
1. Index penjualan per periode -- indeks penjualan merupakan % penjualan pada periode tertentu dibanding TOTAL penjualan dalam satu tahun (angka sales level). Misal, jika forecast menunjukkan angka 1000 (100%), maka indeks penjualan Januari 10% berarti bahwa penjualan Januari adalah 10% dari total (atau sebanyak 100)
2. Harga jual per unit -- termasuk juga apakah ada perubahan harga yang mungkin terjadi dalam periode budget yang disusun.
3. Daerah penjualan-- jika perusahaan memiliki lebih dari satu daerah penjualan/pemasaran, maka dalam budget penjualan yang akan disusun, penjualan pada tiap daerah juga tampak/ada.
Bentuk budget penjualan (dan juga berlaku untuk budget-budget lainnya) tidak ada yang BAKU. Tidak ada format yang HARUS diikuti. Masing-masing perusahaan dapat memiliki format tersendiri, dengan catatan informasi penting yang memang dibutuhkan/harus ada, dibuat/ada pada budget yang disusun. Bentuk tabel dengan kolom-kolom , merupakan bentuk yang umum dibuat.
Hal penting lainnya yang juga HARUS diperhatikan dalam membuat budget penjualan (dan juga berlaku untuk budget lainnya) adalah :
1. Nama Pemilik Budget (nama PT. / perusahaan)
2. Nama Budget
3. Periode berlakunya budget
4. Satuan budget (umumnya dalam satuan moneter/Rp , tetapi terkadang dalam satuan lain, misalnya : unit)
Berikut diperlihatkan contoh bentuk/format budget penjualan.
[contoh soal terkait forecasting-sales budget-budget unit produksi akan disampaikan pada file terpisah]
Hasil forecast yang dilakukan merupakan angka sales level (tingkat penjualan) yang ingin dilakukan pada periode yang di prediksi/rencanakan. Forecast kadang juga dilakukan atas harga yang mungkin akan mengalami perubahan di masa yang akan datang (dengan melihat historis pergerakan harga).
Biasanya HANYA untuk menentukan nilai penjualan saja forecast dilakukan (dalam kegiatan penyusunan budget), hal ini disebabkan budget-budget yang lain nantinya akan menurunkan " angka" pada Sales Budget.
Budget penjualan secara sederhana dapat didefinisikan sebagai rencana penjualan perusahaan yang detail, terperinci untuk jangka waktu tertentu di masa yang akan datang.
Banyak faktor yang mempengaruhi penyusunan budget ini, namun secara umum dikelompokkan menjadi dua faktor; eksternal (contohnya; persaingan, pertumbuhan penduduk) dan internal (contohnya; sumberdaya perusahaan, kebijakan perusahaan)
Mewujudkan budget penjualan terlebih dahulu harus diperoleh diperoleh beberapa informasi, diantaranya :
1. Index penjualan per periode -- indeks penjualan merupakan % penjualan pada periode tertentu dibanding TOTAL penjualan dalam satu tahun (angka sales level). Misal, jika forecast menunjukkan angka 1000 (100%), maka indeks penjualan Januari 10% berarti bahwa penjualan Januari adalah 10% dari total (atau sebanyak 100)
2. Harga jual per unit -- termasuk juga apakah ada perubahan harga yang mungkin terjadi dalam periode budget yang disusun.
3. Daerah penjualan-- jika perusahaan memiliki lebih dari satu daerah penjualan/pemasaran, maka dalam budget penjualan yang akan disusun, penjualan pada tiap daerah juga tampak/ada.
Bentuk budget penjualan (dan juga berlaku untuk budget-budget lainnya) tidak ada yang BAKU. Tidak ada format yang HARUS diikuti. Masing-masing perusahaan dapat memiliki format tersendiri, dengan catatan informasi penting yang memang dibutuhkan/harus ada, dibuat/ada pada budget yang disusun. Bentuk tabel dengan kolom-kolom , merupakan bentuk yang umum dibuat.
Hal penting lainnya yang juga HARUS diperhatikan dalam membuat budget penjualan (dan juga berlaku untuk budget lainnya) adalah :
1. Nama Pemilik Budget (nama PT. / perusahaan)
2. Nama Budget
3. Periode berlakunya budget
4. Satuan budget (umumnya dalam satuan moneter/Rp , tetapi terkadang dalam satuan lain, misalnya : unit)
Berikut diperlihatkan contoh bentuk/format budget penjualan.
[contoh soal terkait forecasting-sales budget-budget unit produksi akan disampaikan pada file terpisah]
Kamis, 27 September 2012
Forecasting>>Sales Budget>>Unit to be Produced Budget (Part 1)
Setelah gambaran besar (big pictures) anggaran disampaikan pada postingan terdahulu, maka saya akan mencoba mengulas berkaitan dengan forecasting, kemudian budget (anggaran) penjualan, dan budget unit yang diproduksi. Mudah-mudahan bisa memberikan pemahaman bagi para pembaca.Insya Allah..
Sebelum menyusun budget penjualan (sebagai starting point dalam forecasting budget) , maka sesuai namanya, kita memang PERLU melakukan sebuah forecast (peramalan). Istilah "ramalan" kurang terdengar ilmiah karena lebih terkesan ahli nujum, maka kita pakai istilah prediksi/perkiraan. Forecast terhadap nilai penjualan ini secara umum dapat dikelompokkan melalui 2 cara :
a. Qualitative Approach (pendekatan kualitatif) -- atau kadang disebut non-statistical method, karena lebih mendasarkan pada opini/pendapat sesorang atau lebih. Pendekatan ini lebih subjektif, dan kadang sulit untuk distandarkan dalam pengukurannya
b. Quantitative Approach (pendekatan kuantitatif). Cara yang lebih objektif karena memakai pendekatan statistik yang baku (sehingga disebut juga statistical method).
Prediksi dengan cara statistik sangat banyak, mulai yang sederhana sampai yang terkesan kompleks (sophisticated). Metode sederhana namun cukup bisa memberikan gambaran proses/langkah forecasting adalah metode moment dan least square (kuadrat terkecil)
Penerapan kedua metode ini memerlukan sebuah persyaratan : DATA MASA LALU (historical data) - berkaitan penjualan --karena dalam konteks ini adalah ingin memperkirakan nilai penjualan.
Seandainya perusahaan tersebut baru berdiri, maka data masa lalu dapat memakai data perusahaan sejenis / data industri. Terkadang mereka yang baru mulai usaha menggunakan pendekatan zero based budgeting (Insya Allah dibahas pada postingan yang berbeda).
Secara teknis, saya tidak akan membahas metode-metode diatas (moment dan least square), namun saya akan menggarisbawahi beberapa hal :
1. Hasil forecast kedua metode (paling tidak jika historical datanya sama atau diatas 4 periode/tahun, n>=4) , akan memberikan HASIL yang sama.
2. Nilai forecast kedua metode PASTI tidak akan berbeda jauh dari rentangan historical datanya. (Misal, jika data masa lalu ada diantara 1800-1900 ,misalnya, maka hasil forecast tidak mungkin diatas 2000, atau dibawah 1800).
3. Kedua metode sama-sama menggunakan formula rumus yang sama, bedanya, "peletakan" nilai X. Jika moment memulai dari 0 (kemudian naik 1 kedata berikutnya), maka least square HARUS membagi data menjadi dua bagian sama banyak terlebih dahulu, dan perhatikan apakah datanya ganjil (n=3,5,7 dst) atau datanya genap (n=4,6,8, dst) -- dengan syarat sigma HARUS 0
4. Nilai prediksi Y' , akan diperoleh setelah nilai X tahun yang diprediksi diganti dengan angka yang BENAR. Tidak perlu mengubah-ubah posisi nilai X (untuk metode least square). Tinggal dilanjutkan saja ! [artinya jangan sampai kemudian menjadikan sigma X = 0 saat sudah memasukkan nilai X untuk tahun yang diprediksi)
Memahami kedua metode TIDAK BISA dengan dihafal, tapi mesti banyak latihan !
Setelah memperoleh Y' (sales yang diprediksi untuk tahun yang diingin dibuat budgetnya -- catatan : jika historical datanya bulanan, maka Y' juga untuk satu bulan, jika historical datanya triwulan, maka Y' juga untuk triwulan, demikian seterusnya) , maka angka itulah yang akan menjadi TOTAL unit dalam SALES BUDGET (budget penjualan).
...to be continued !
Sebelum menyusun budget penjualan (sebagai starting point dalam forecasting budget) , maka sesuai namanya, kita memang PERLU melakukan sebuah forecast (peramalan). Istilah "ramalan" kurang terdengar ilmiah karena lebih terkesan ahli nujum, maka kita pakai istilah prediksi/perkiraan. Forecast terhadap nilai penjualan ini secara umum dapat dikelompokkan melalui 2 cara :
a. Qualitative Approach (pendekatan kualitatif) -- atau kadang disebut non-statistical method, karena lebih mendasarkan pada opini/pendapat sesorang atau lebih. Pendekatan ini lebih subjektif, dan kadang sulit untuk distandarkan dalam pengukurannya
b. Quantitative Approach (pendekatan kuantitatif). Cara yang lebih objektif karena memakai pendekatan statistik yang baku (sehingga disebut juga statistical method).
Prediksi dengan cara statistik sangat banyak, mulai yang sederhana sampai yang terkesan kompleks (sophisticated). Metode sederhana namun cukup bisa memberikan gambaran proses/langkah forecasting adalah metode moment dan least square (kuadrat terkecil)
Penerapan kedua metode ini memerlukan sebuah persyaratan : DATA MASA LALU (historical data) - berkaitan penjualan --karena dalam konteks ini adalah ingin memperkirakan nilai penjualan.
Seandainya perusahaan tersebut baru berdiri, maka data masa lalu dapat memakai data perusahaan sejenis / data industri. Terkadang mereka yang baru mulai usaha menggunakan pendekatan zero based budgeting (Insya Allah dibahas pada postingan yang berbeda).
Secara teknis, saya tidak akan membahas metode-metode diatas (moment dan least square), namun saya akan menggarisbawahi beberapa hal :
1. Hasil forecast kedua metode (paling tidak jika historical datanya sama atau diatas 4 periode/tahun, n>=4) , akan memberikan HASIL yang sama.
2. Nilai forecast kedua metode PASTI tidak akan berbeda jauh dari rentangan historical datanya. (Misal, jika data masa lalu ada diantara 1800-1900 ,misalnya, maka hasil forecast tidak mungkin diatas 2000, atau dibawah 1800).
3. Kedua metode sama-sama menggunakan formula rumus yang sama, bedanya, "peletakan" nilai X. Jika moment memulai dari 0 (kemudian naik 1 kedata berikutnya), maka least square HARUS membagi data menjadi dua bagian sama banyak terlebih dahulu, dan perhatikan apakah datanya ganjil (n=3,5,7 dst) atau datanya genap (n=4,6,8, dst) -- dengan syarat sigma HARUS 0
4. Nilai prediksi Y' , akan diperoleh setelah nilai X tahun yang diprediksi diganti dengan angka yang BENAR. Tidak perlu mengubah-ubah posisi nilai X (untuk metode least square). Tinggal dilanjutkan saja ! [artinya jangan sampai kemudian menjadikan sigma X = 0 saat sudah memasukkan nilai X untuk tahun yang diprediksi)
Memahami kedua metode TIDAK BISA dengan dihafal, tapi mesti banyak latihan !
Setelah memperoleh Y' (sales yang diprediksi untuk tahun yang diingin dibuat budgetnya -- catatan : jika historical datanya bulanan, maka Y' juga untuk satu bulan, jika historical datanya triwulan, maka Y' juga untuk triwulan, demikian seterusnya) , maka angka itulah yang akan menjadi TOTAL unit dalam SALES BUDGET (budget penjualan).
...to be continued !
Life's a Journey not a Destination
[bukan menggurui, tapi untuk mengingatkan kita semua]
Penikmat musik metal , mungkin pernah akrab dengan Steven Tyler dan Aerosmithnya. Judul diatas merupakan bait dari lagu Amazing, album Get A Grip (1993). [Mungkin mengutip quotation terkenal dari penulis dari America abad 19 , Ralph Waldo Emerson].
Entah memang bermuatan "spiritualisme" atau hanya sekedar kalimat yang mengisi lirik lagu grup band terkenal, maka postingan saya kali ini akan mencoba memaknainya dari sudut pandang berbeda.
Sudut pandang yang saya maksud adalah sudut pandang seorang yang memiliki keimanan, dan kepercayaan serta keyakinan akan adanya hidup setelah kematian.
Tidak hanya umat muslim, sebagian pemeluk agama lain mempercayai adanya "the life after" tersebut !
Hakekat kehidupan ini memang HARUSNYA dimaknai sebagai sebuah perjalanan, bukan tujuan ! Ibarat seorang musafir yang berteduh di sebuah pohon rindang ditengah panasnya perjalanan yang ia tempuh, maka waktu berteduh itu HANYA sebentar. Tidak lama-lama. Tidak boleh tertidur, karena perjalanan (masih) teramat jauh.
Boleh juga dimisalkan, seperti perjalanan dengan moda transportasi kereta api/kapal, yang biasanya berhenti "sejenak" pada stasiun/pelabuhan. Para penumpang mungkin akan keluar untuk cari angin, atau bekal lainnya, tapi JANGAN SAMPAI ketinggalan, karena kereta/kapal akan berangkat !
Betapa banyak kita melihat orang-orang yang "bernafsu" mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya - tanpa peduli halal haram--seolah-olah HARTA itu akan menolongnya nanti.
Orang-orang yang "berlomba-lomba" narsis untuk dapat jabatan -- bahkan rela melakukan riswah (suap) , padahal Rasulullah mengutuk siapa yang menyuap dan diberi suap.
Orang-orang menghalalkan segala cara untuk memperoleh "sesuatu" di dunia ini, dan LUPA kalau kehidupan dunia ini akan berakhir dan SEMUA akan diminta pertanggungjawabannya kelak !
Pembaca yang berbahagia..
Kehidupan di dunia ini, HANYA sebentar.Sangat singkat, jika dibanding dengan kehidupan abadi nanti di akhirat. Kehidupan ini juga BUKAN tujuan ! Kehidupan ini adalah sarana menuju kehidupan yang kekal tersebut. Sebagai insan yang telah dianugerahi keimanan dan kecerdasan, kita HENDAKNYA menjadikan kehidupan ini untuk mengumpulkan BEKAL sebanyak-banyaknya. Sebaik-baik bekal adalah taqwa padaNya.
Share ini bukan untuk membuat kita pesimis dalam menjalani hidup, karena toh kita akan mati ! Bukan seperti itu, kehidupan dunia MESTI dijalani karena merupakan rangkaian "perjalanan". Kita juga tidak boleh mengabaikan kehidupan dunia, dan kemudian beribadah/ritual saja. Bukankah ibadah juga dapat dilakukan melalui hablumminannas (hubungan muamalat sesama manusia) , berbuat kebaikan untuk seluruh penghuni alam semesta, menjadi rahmatanlil'alamin ?
Bukankah ketika kita belajar dengan benar, melakukannya dengan kejujuran, memanfaatkan ilmu itu untuk kebaikan, akan menjadi pahala ? Insya Allah..
Prinsipnya adalah, kita menjalani kehidupan ini sebaik-baiknya. Meniatkan setiap langkah kita untuk ibadah kepadaNya. Menegakkan sebaik-baiknya ibadah wajib kita kepada Allah SWT. memperbanyak ibadah-ibadah tambahan (sunat) untuk "menambal" ibadah wajib kita yang kurang. Insya Allah, kehidupan dunia kita akan berjalan baik. Kehidupan akhirat kita, Insya Allah, akan selamat. Aamiin.
Life is a journey, not a destination.
Hidup merupakan sebuah perjalanan, bukan suatu tujuan.
Selasa, 25 September 2012
1
Organisasi (organisation, organization, dalam bahasa inggris) memiliki akar kata yang sama dengan organisme (makhluk hidup), yaitu organon (bahasa Yunani). Secara tak langsung kita bisa mengatakan bahwa sebuah organisasi adalah ibarat makhluk hidup.Organisasi juga dimaknai sebagai sebuah corporation, yang memiliki akar kata corpus (dalam bahasa Latin) yang artinya tubuh.
Kita juga mendengar organisasi disebut juga sebuah "badan".
Sehingga kita bisa menyimpulkan, bahwa organisasi/corporation adalah ibarat tubuh dari suatu makhluk hidup.
Bayangkan jika kemudian tubuh makhluk hidup itu adalah tubuh kita, manusia. Ketika kaki kita tersandung batu, maka yang merasakan akibat dari sandungan itu adalah kaki, mulut yang akan mengaduh, kepala yang berdenyut, degupan jantung yang makin cepat karena kita khawatir, dan bagian tubuh yang lainnya (seperti tangan yang reflek memegang kaki, atau mata yang "memelototi" bagian yang kena sandung).
Denga kata lain, semua anggota tubuh juga merasakan sakit.
Begitu pun sebenarnya yang terjadi ketika hal positif yang terjadi. Saat perut kekenyangan, maka yang merasakan dampaknya bukan perut itu sendiri, tapi mata yang akan mengantuk, punggung yang minta disandarkan, kaki yang minta diistirahatkan, mulut yang terbuka tiap sebentar karena menguap, dan bagian tubuh lainnya. Denga kata lain, semua anggota tubuh juga merasakannya.
Pembaca yang berbahagia..
Demikian jugalah analoginya jika dalam organisasi seperti Fakultas Ekonomi UNP, yang terdiri dari berbagai anggota (dosen, karyawan, mahasiswa, dan lainnya).Ketika ada yang menderita sakit, maka yang lain juga merasakannya. Kalau ada yang berbahagia, semua juga turut berbagi kebahagiaan.
Saat ini, Bapak Gesit Thabrani sedang dirawat di RS. M. Djamil, pasca operasi "kista tiroid". Sampai postingan ini dikirim, beliau ada di Kamar Dahlia No.20 (Embun Pagi). Ibu Lili Anita, pasca dirawat di RS Yos Sudarso, juga sedang menjalani perawatan di rumah beliau. Mungkin juga ada Bapak/Ibu dosen, karyawan, mahasiswa dan seluruh keluarga besar FE UNP yang juga dalam perawatan, atau suasana duka, maka kita merasakan juga duka/sakit yang diderita tersebut.
Do'a dan harapan agar diberi kesembuhan seperti sediakala dan memperoleh kesabaran dalam menjalaninya.
Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling sayang menyayangi dan saling kasih mengasihani adalah seperti satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang mengaduh kesakitan maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam”. (HR. Bukhari)
Rasulullah SAW juga menegaskan “Mukmin yang satu terhadap mukmin yang lain adalah seperti satu bangunan. Bagian yang satu menguatkan bagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa ra)
We are together as one
One big family
Kita juga mendengar organisasi disebut juga sebuah "badan".
Sehingga kita bisa menyimpulkan, bahwa organisasi/corporation adalah ibarat tubuh dari suatu makhluk hidup.
Bayangkan jika kemudian tubuh makhluk hidup itu adalah tubuh kita, manusia. Ketika kaki kita tersandung batu, maka yang merasakan akibat dari sandungan itu adalah kaki, mulut yang akan mengaduh, kepala yang berdenyut, degupan jantung yang makin cepat karena kita khawatir, dan bagian tubuh yang lainnya (seperti tangan yang reflek memegang kaki, atau mata yang "memelototi" bagian yang kena sandung).
Denga kata lain, semua anggota tubuh juga merasakan sakit.
Begitu pun sebenarnya yang terjadi ketika hal positif yang terjadi. Saat perut kekenyangan, maka yang merasakan dampaknya bukan perut itu sendiri, tapi mata yang akan mengantuk, punggung yang minta disandarkan, kaki yang minta diistirahatkan, mulut yang terbuka tiap sebentar karena menguap, dan bagian tubuh lainnya. Denga kata lain, semua anggota tubuh juga merasakannya.
Pembaca yang berbahagia..
Demikian jugalah analoginya jika dalam organisasi seperti Fakultas Ekonomi UNP, yang terdiri dari berbagai anggota (dosen, karyawan, mahasiswa, dan lainnya).Ketika ada yang menderita sakit, maka yang lain juga merasakannya. Kalau ada yang berbahagia, semua juga turut berbagi kebahagiaan.
Saat ini, Bapak Gesit Thabrani sedang dirawat di RS. M. Djamil, pasca operasi "kista tiroid". Sampai postingan ini dikirim, beliau ada di Kamar Dahlia No.20 (Embun Pagi). Ibu Lili Anita, pasca dirawat di RS Yos Sudarso, juga sedang menjalani perawatan di rumah beliau. Mungkin juga ada Bapak/Ibu dosen, karyawan, mahasiswa dan seluruh keluarga besar FE UNP yang juga dalam perawatan, atau suasana duka, maka kita merasakan juga duka/sakit yang diderita tersebut.
Do'a dan harapan agar diberi kesembuhan seperti sediakala dan memperoleh kesabaran dalam menjalaninya.
Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling sayang menyayangi dan saling kasih mengasihani adalah seperti satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang mengaduh kesakitan maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam”. (HR. Bukhari)
Rasulullah SAW juga menegaskan “Mukmin yang satu terhadap mukmin yang lain adalah seperti satu bangunan. Bagian yang satu menguatkan bagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa ra)
We are together as one
One big family
Kebaikan Berbuah Kebaikan
Ahad kemaren (23/9/12) , saya melayat ke keluarga yang tinggal di Sawahlunto. Ibu Yetti Agoes, kami menyebutnya tante Ices, meninggal dunia dalam usia 66 tahun. Innalillah wainnailaihi raji'un..
Satu lagi nasehat kematian datang kepada kami, kita, yang masih diberi kehidupan oleh Allah SWT [sebelumnya saya posting juga berkaitan dengan meninggalnya Zikri--lihat "Ketika Titipan Itu Diambil Kembali"]
Share kali ini, saya ingin berbagi tentang bagaimana "keramaian" pelayat yang datang. Begitu ramainya sehingga shalat jenazah dilakukan sampai dua kali. Ketika almarhumah diantarkan ke peristirahatan terakhir, para pelayat yang mengantar ke pemakaman pun tidak berkurang jumlahnya. Banyak dan rela untuk berpanas-panas dan jalan kaki menempuh jalan yang menanjak. Subhanallah..
Saya yakin, semasa hidupnya, almarhumah begitu banyak melakukan kebaikan, sehingga disaat terakhirnya, ditunjukkan oleh Allah, bagaimana kebaikannya itu kembali kepadanya. Bukankah dengan semakin banyaknya yang menshalati dan makin banyak yang mendo'akan, merupakan kebaikan yang akan menolong almarhumah ? Insya Allah..
Ibarat pepatah "siapa yang menabur, maka ia akan menuai " , maka hukum sebab-akibat juga dijelaskan melalui kalimat "In ahsantum ahsantum li anfusikum”, jika kamu berbuat baik, maka sesungguhnya kamu berbuat baik untuk diri kamu sendiri. Demikian firman Allah SWT dalam QS 17 : 7. Kebaikan akan berbuah kebaikan. Kebaikan yang kita lakukan akan kembali kepada kita.
Sebaliknya, ayat yang sama juga menyatakan ..... wa`in asa`tum falaha (dan jika kamu berbuat jahat itu juga kembali pada dirimu). Maknanya, jika ada keburukan atau kejahatan yang dilakukan, maka yang akan merasakannya nanti pada akhirnya adalah pelaku kejahatan itu. Sehingga dalam kasus para penghina Rasulullah, seandainya mereka terlepas dari hukum dunia, maka tidak akan lepas dari hukum Allah SWT.
[baca "An Innocent Prophet"]
Wallahu'alambisshawab..
Satu lagi nasehat kematian datang kepada kami, kita, yang masih diberi kehidupan oleh Allah SWT [sebelumnya saya posting juga berkaitan dengan meninggalnya Zikri--lihat "Ketika Titipan Itu Diambil Kembali"]
Share kali ini, saya ingin berbagi tentang bagaimana "keramaian" pelayat yang datang. Begitu ramainya sehingga shalat jenazah dilakukan sampai dua kali. Ketika almarhumah diantarkan ke peristirahatan terakhir, para pelayat yang mengantar ke pemakaman pun tidak berkurang jumlahnya. Banyak dan rela untuk berpanas-panas dan jalan kaki menempuh jalan yang menanjak. Subhanallah..
Saya yakin, semasa hidupnya, almarhumah begitu banyak melakukan kebaikan, sehingga disaat terakhirnya, ditunjukkan oleh Allah, bagaimana kebaikannya itu kembali kepadanya. Bukankah dengan semakin banyaknya yang menshalati dan makin banyak yang mendo'akan, merupakan kebaikan yang akan menolong almarhumah ? Insya Allah..
Ibarat pepatah "siapa yang menabur, maka ia akan menuai " , maka hukum sebab-akibat juga dijelaskan melalui kalimat "In ahsantum ahsantum li anfusikum”, jika kamu berbuat baik, maka sesungguhnya kamu berbuat baik untuk diri kamu sendiri. Demikian firman Allah SWT dalam QS 17 : 7. Kebaikan akan berbuah kebaikan. Kebaikan yang kita lakukan akan kembali kepada kita.
Sebaliknya, ayat yang sama juga menyatakan ..... wa`in asa`tum falaha (dan jika kamu berbuat jahat itu juga kembali pada dirimu). Maknanya, jika ada keburukan atau kejahatan yang dilakukan, maka yang akan merasakannya nanti pada akhirnya adalah pelaku kejahatan itu. Sehingga dalam kasus para penghina Rasulullah, seandainya mereka terlepas dari hukum dunia, maka tidak akan lepas dari hukum Allah SWT.
[baca "An Innocent Prophet"]
Wallahu'alambisshawab..
Senin, 24 September 2012
"Big Pictures" Budget Dalam Perusahaan
Sebelum berbicara tentang masing-masing budget yang ada dalam sebuah perusahaan. Maka pada postingan kali ini, saya akan mencoba memberikan gambara besar / framework tentang posisi anggaran (selanjutnya disebut budget) dalam sebuah perusahaan dan keterkaitan antar budget.
Silahkan para pembaca mengamati bagan yang ada dibawah ini (dikutip dari sebuah sumber). Apa yang dapat dimaknai dari gambaran tersebut ?
Tentu banyak yang bisa pembaca berikan komentar. Beberapa diantaranya yang nanti akan dapat menggiring ke pemahaman yang komprehensif :
1. Sebuah perusahaan memiliki tujuan-tujuan strategis dan tujuan-tujuan jangka panjang yang disupport oleh rencana-rencana jangka panjangnya (long range plan).
2. Tujuan strategis/jangka panjang perusahaan akan diturunkan ke dalam tujuan-tujuan jangka pendek (secara umum, annually/tahunan). Budget merupakan bagian dari tujuan jangka pendek tersebut.
3. Capital budget secara umum bukan bersifat tahunan, tapi lebih ke jangka panjang. Karena pengeluaran modal dalam hal pembelian aktiva yang berumur ekonomis lama, lebih bersifat investasi. Sehingga sedikit berbeda dalam penyusunan anggaran yang bersifat tahunan (kelompok forecasting budget, yaitu budget operational dan finansial)
4. Budget, atau dalam hal ini kita sebut "forecasting" annually budget, budget tahunan, dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu Operating Budget (budget yang berisikan perkiraan tentang aktivitas/kegiatan operational perusahaan) dan Financial Budget (budget yang berisikan perkiraan tentang kondisi/posisi keuangan perusahaan).
5. Proses penyusunan dari 2 kelompok tersebut diawali dari Operating Budget. Mustahil mendapatkan posisi/kondisi keuangan perusahaan sebelum melakukan kegiatan/aktivitas/operational. [kecuali yang diinginkan adalah posisi/kondisi awal--tapi ini bukanlah alasan yang tepat !]
6. Dari sekian banyak aktivitas dalam operational perusahaan, budget penjualan (sales budget) merupakan budget yang disusun terlebih dahulu. Alasannya simple, dalam kondisi persaingan seperti saat ini (yang oleh sebagian pakar disebut sebagai marketing era), tentu aktifitas pertama yang harus dilakukan perusahaan adalah "memastikan" apa yang akan mereka hasilkan dapat terjual. Apakah itu melalui riset pasar atau aktifitas lainnya. Sesuatu yang jelas adalah, perusahaan tidak lagi melakukan seperti yang dilakukan oleh perusahaan monopoli. Hasilkan produk dan yakin terjual karena tidak ada saingan (disebut push system).
Perusahaan abad 21, melakukan apa yang disebut pull system, meyakini bahwa ada pasar/segmen yang bisa digarap, baru kemudian berproduksi.
7. Setelah poin 6 dipahami, dimana sales budget disusun terlebih dahulu, barulah budget lain mengikuti apa yang ada pada SALES BUDGET. Artinya budget-budget lain, jika dirunut-runut nantinya, akan menghasilkan angka yang diturunkan dari budget paling atasnya (sales budget).
makanya kemudian ada yang mengatakan aktifitas ,marketing/penjualan merupakan ujung tombak perusahaan.
Demikian penjelasan saya, mudah-mudahan pembaca memperoleh gambaran besar tentang posisi budget dalam sebuah perusahaan serta keterkaitannya.
Terimakasih. Salam,
Langganan:
Komentar (Atom)

