Memperoleh inspirasi dari "mimpi buruk" seorang teman, maka saya mencoba share tentang MIMPI BURUK yang semoga tidak menjadi "mimpi buruk" bagi saya dan pembaca.
Terkadang kita dalam kehidupan ini secara tak sadar atau bahasa yang lebih vulgarnya "terpaksa" memakai sebuah kata atau istilah yang kalau di pikir ulang sepertinya tidak klop dengan apa yang kita rasakan atau ingin kita sampaikan , atau kondisi sebenarnya !
Contohnya kata "mimpi buruk".
Saya tidak mengikutsertakan makna "mimpi buruk" yang sebenarnya, yaitu peristiwa "bawah sadar" yang kita alami saat tidur yang peristiwa / kejadian yang ada dalam tidur kita itu sesuatu yang tidak mengenakkan , ngeri, tragis, atau sejenisnya.
Mimpi buruk yang akan kita bahas adalah kata yang dipakai oleh seseorang saat ada kejadian yang efek / dampak dari kejadian tersebut memberikan dampak tidak mengenakkan, risau, merugikan, atau sejenisnya. Dimana mimpi buruk ini tidak dialami dalam proses tidur, tetapi kondisi "sadar" !
[Jadi apakah kemudian kita masih bisa menggunakan kata "mimpi buruk" ? Padahal kita tidak melakukan tidur , atau baru terbagun dari tidur]
Mimpi buruk hanya terjadi di alam mimpi.Ahli kesehatan mengatakan bahwa mimpi buruk bisa dipicu oleh berbagai hal, diantaranya ; faktor makanan, stress, kelelahan, dan sebagainya.
Mimpi buruk rasanya tidak akan hadir jika kemudian kita menghindari penyebab mimpi buruk tersebut.
Saya pikir menggunakan frase "mimpi buruk" untuk kejadian yang tidak mengenakkan , terlalu berlebihan.
Alangkah lebih indah, jika bahasanya adalah ; bahwa ini merupakan kenyataan yang mesti dihadapi.
Ini merupakan bagian dari kehidupan yang mesti dijalani. Ini bukan mimpi buruk, ini realita !
Butuh kesabaran dan kelapangan hati untuk melalui ini.
Selalu ada rahasia dan pelajaran dibalik peristiwa yang tidak menyenangkan tersebut
Jika kemudian kita masih memakai kata "mimpi buruk"
Khawatir nantinya kita susah menerima kenyataan !
Jumat, 18 Januari 2013
Selasa, 15 Januari 2013
Maut Bukit Sanggul
Piaman manangih , Minangkabau baibo hati
Dunia transportasi darat khususnya belasungkawa.
Kita semua berduka.
Innalillahiwainnailaihi rajai'un
Selasa pagi, 15/1/2013, sekitar pukul 07.15 WIB terjadi tabrakan maut di daerah Bukit Sanggul , Pasar Usang, Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman, Sumatera Barat,
Tabrakan maut tersebut melibatkan angkutan kota (angkot) Kopaba bernomor polisi BA 2892 FE versus minibus travel Jurusan PadangSiempuan - Padang BB 1130 FP.
Korban meninggal dunia telah lebih dari 8 orang, yang kritis belasan orang, luka-luka juga banyak. Kerugian moril dan materil yang diderita rasanya tidak sedikit.
Tabrakan maut terkhusus sangat memilukan hati para orangtua yang pada beberapa waktu sebelumnya melepas kepergian putra/putrinya ke sekolah. Dunia pendidikan kehilangan putra-putri penerusnya. Bahkan seorang guru--pahlawan tanpa tanda jasa-- juga ikut meninggal dunia.
Semoga Allah menerima amal sholeh para korban dan memberikan kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkan.
Terlepas siapa yang salah dalam kejadian tersebut--karena pihak kepolisian juga sedang menyelidiki-- yang jelas, peristiwa tersebut HARUSNYA memberikan pelajaran kepada kita semua. Walaupun memang, bahwa semuanya adalah takdir Allah SWT, tapi sebagai manusia kita tentu berkewajiban mengambil ibrah dari kejadian menyedihkan tersebut.
Mudah-mudahan angka kecelakaan semakin turun dengan kejadian tersebut.
Berlalu lintas semakin hati-hati.
Peraturan semakin ditaati.
Insya Allah
Dunia transportasi darat khususnya belasungkawa.
Kita semua berduka.
Innalillahiwainnailaihi rajai'un
Selasa pagi, 15/1/2013, sekitar pukul 07.15 WIB terjadi tabrakan maut di daerah Bukit Sanggul , Pasar Usang, Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman, Sumatera Barat,
Tabrakan maut tersebut melibatkan angkutan kota (angkot) Kopaba bernomor polisi BA 2892 FE versus minibus travel Jurusan PadangSiempuan - Padang BB 1130 FP.
Korban meninggal dunia telah lebih dari 8 orang, yang kritis belasan orang, luka-luka juga banyak. Kerugian moril dan materil yang diderita rasanya tidak sedikit.
Tabrakan maut terkhusus sangat memilukan hati para orangtua yang pada beberapa waktu sebelumnya melepas kepergian putra/putrinya ke sekolah. Dunia pendidikan kehilangan putra-putri penerusnya. Bahkan seorang guru--pahlawan tanpa tanda jasa-- juga ikut meninggal dunia.
Semoga Allah menerima amal sholeh para korban dan memberikan kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkan.
Terlepas siapa yang salah dalam kejadian tersebut--karena pihak kepolisian juga sedang menyelidiki-- yang jelas, peristiwa tersebut HARUSNYA memberikan pelajaran kepada kita semua. Walaupun memang, bahwa semuanya adalah takdir Allah SWT, tapi sebagai manusia kita tentu berkewajiban mengambil ibrah dari kejadian menyedihkan tersebut.
Mudah-mudahan angka kecelakaan semakin turun dengan kejadian tersebut.
Berlalu lintas semakin hati-hati.
Peraturan semakin ditaati.
Insya Allah
Sabtu, 12 Januari 2013
Buang Badan
Manakala seseorang berada pada posisi yang tidak menguntungkan dan cenderung akan dipersalahkan, maka orang tersebut akan "buang badan". Sebuah istilah yang tidak bermakna sebenarnya (membuang badan/tubuh) , tetapi bermakna bahwa ; orang tersebut seolah-olah tidak tahu menahu, atau hanya ikut-ikutan, dan yang bertanggung jawab adalah ORANG LAIN !
Bagi yang terbiasa, saat "buang badan" menjadi waktu yang "ngeri-ngeri sedap" (kata orang Medan) -- ngeri kalau ketahuan bohongnya, sedap kalau berhasil mengelabui lawan bicara.
Entah kenapa, fenomena buang badan seringkali dilakukan, tanpa merasa ada yang salah.
Alasan tidak tahu, lupa, atau tidak terlibat, bahkan mengatakan "hanya korban" merupakan wujud tindakan BUANG BADAN.
Pembaca yang berbahagia...
Jika ditelaah, mengapa ada yang "buang badan" -- adalah karena yang bersangkutan tidak siap dengan kondisi terburuk yang mungkin diperoleh dari sebuah tindakan yang dilakukan. Yang bersangkutan tidak mampu memetakan risiko terjelek yang akan terjadi, sehingga tidak mempersiapkan mental dalam menghadapi kemungkinan tersebut. Kurang/tidak adanya komitmen juga menjadikan seseorang dengan tanpa bersalah melakukan buang badan.
Jika telah menyadari kemungkinan buruk yang terjadi dan memiliki komitmen, rasanya tidak akan terjadi buang badan.
Buang badan adalah tindakan negatif, tercela, tidak bertanggung jawab, pengecut, dan memperlihatkan kekurangberimanan mereka yang melakukan.
Lalu jika ada yang berhasil dengan cara "buang badan" nya, apakah bisa kita katakan bahwa buang badan adalah tindakan yang bisa dipakai ?
Sadarilah, bahwa buang badan mungkin saja berhasil, lalu apakah "ruh"nya juga ikut ?
Badan mungkin bisa dibuang, tetapi jiwa/ruh yang melekat tidak akan pernah bisa dibuang !
Artinya, kesalahan yang bisa ditutupi akan ketahuan juga pada akhirnya.
Karena jiwa/ruh yang saat itu ikut melakukan "kejahatan/kejelekan" itu tidak pernah yang namanya melakukan "buang jiwa/ruh".
Sederhananya, saya ingin menyampaikan bahwa jika anda berhasil "buang badan" dengan tidak mengakui hasil perbuatan anda atau malah kemudian melemparkan kesalahan/tanggungjawab itu ke orang lain, maka NANTI (cepat atau lambat) anda akan mempertanggungjawabkannya.
Pertanggungjawaban di dunia mungkin lebih baik dilakukan, karena memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dan menyesali kesalahan tersebut (tobat).
Daripada anda lepas dari "hukuman dunia" tetapi harus bertanggungjawab nanti di akhirat !
Na'udzubillahiminzalik !
Bagi yang terbiasa, saat "buang badan" menjadi waktu yang "ngeri-ngeri sedap" (kata orang Medan) -- ngeri kalau ketahuan bohongnya, sedap kalau berhasil mengelabui lawan bicara.
Entah kenapa, fenomena buang badan seringkali dilakukan, tanpa merasa ada yang salah.
Alasan tidak tahu, lupa, atau tidak terlibat, bahkan mengatakan "hanya korban" merupakan wujud tindakan BUANG BADAN.
Pembaca yang berbahagia...
Jika ditelaah, mengapa ada yang "buang badan" -- adalah karena yang bersangkutan tidak siap dengan kondisi terburuk yang mungkin diperoleh dari sebuah tindakan yang dilakukan. Yang bersangkutan tidak mampu memetakan risiko terjelek yang akan terjadi, sehingga tidak mempersiapkan mental dalam menghadapi kemungkinan tersebut. Kurang/tidak adanya komitmen juga menjadikan seseorang dengan tanpa bersalah melakukan buang badan.
Jika telah menyadari kemungkinan buruk yang terjadi dan memiliki komitmen, rasanya tidak akan terjadi buang badan.
Buang badan adalah tindakan negatif, tercela, tidak bertanggung jawab, pengecut, dan memperlihatkan kekurangberimanan mereka yang melakukan.
Lalu jika ada yang berhasil dengan cara "buang badan" nya, apakah bisa kita katakan bahwa buang badan adalah tindakan yang bisa dipakai ?
Sadarilah, bahwa buang badan mungkin saja berhasil, lalu apakah "ruh"nya juga ikut ?
Badan mungkin bisa dibuang, tetapi jiwa/ruh yang melekat tidak akan pernah bisa dibuang !
Artinya, kesalahan yang bisa ditutupi akan ketahuan juga pada akhirnya.
Karena jiwa/ruh yang saat itu ikut melakukan "kejahatan/kejelekan" itu tidak pernah yang namanya melakukan "buang jiwa/ruh".
Sederhananya, saya ingin menyampaikan bahwa jika anda berhasil "buang badan" dengan tidak mengakui hasil perbuatan anda atau malah kemudian melemparkan kesalahan/tanggungjawab itu ke orang lain, maka NANTI (cepat atau lambat) anda akan mempertanggungjawabkannya.
Pertanggungjawaban di dunia mungkin lebih baik dilakukan, karena memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dan menyesali kesalahan tersebut (tobat).
Daripada anda lepas dari "hukuman dunia" tetapi harus bertanggungjawab nanti di akhirat !
Na'udzubillahiminzalik !
Kamis, 10 Januari 2013
Mudik Tak Kembali
Lebaran memang masih lama. Beberapa bulan lagi. Meski pun demikian, penggunaan kata mudik dalam postingan saya kali ini bukan terkait dengan Hari Raya umat muslim tersebut. Hal ini perlu saya sampaikan di awal karena kita telah sangat akrab dengan fenomena MUDIK yang hubungan dengan lebaran.
Mudik, kita pahami sebagai tradisi pulang kampung asal dari daerah rantau (daerah dimana masyarakat yang meninggalkan kampung halamnnya tersebut mencari nafkah/penghidupan). Mudik sebenarnya tidak mesti terjadi saat lebaran, natal, atau saat-saat tertentu saja.
Anytime, mudik dapat terjadi dan dilakukan.
Pembaca yang berbahagia..
Mungkin ada diantara kita yang lupa tentang asal nenek moyang kita. Untuk mengingatkan, saya sampaikan bahwa nenek moyang kita, yaitu Nabi Adam as. , berasal dari sebuah kampung yang bernama akhirat.
Kampung akhirat memiliki persimpangan dua wilayah, yaitu ; SORGA dan NERAKA.
[Ke arah mana persimpangan itu ditempuh akan ditentukan oleh "bawaan" yang dibawa pemudik]
Untuk mencapai kampung akhirat hanya bisa dicapai dengan kendaraan yang bernama MATI/MENINGGAL DUNIA !
Waktu berangkatnya kendaraan kematian: Kapan saja bisa !
Saat ini kita semua, umat manusia, pada hakekatnya adalah MERANTAU . Jika meminjam istilah sosiolog Minang, Bapak Mocthar Naim, kita sedang merantau sepanjang masa (sepanjang masa kehidupan kita di dunia, pen.)
Memang banyak yang mengatakan jika masyarakat Minang adalah masyarakat perantau, tetapi seluruh umat manusia di dunia ini sebenarnya adalah perantau.
Merantau dari kampung halaman.
Meninggalkan kampung akhirat untuk nantinya kembali lagi , MUDIK !
Mudik yang pasti akan dilakukan oleh semua umat manusia, suka atau tidak suka !
Yang membedakan "mudik" pembahasan kita ini dengan mudik yang biasa kita dengar adalah, mudik ini tidak mengenal istilah balik (kembali).
Mudik yang tidak akan memberikan kesempatan perantau yang telah menaiki kendaraan KEMATIAN untuk kembali (kecuali jika Allah SWT berkehendak lain !)
Mudik Tak Kembali.
Setiap perantau (baca : umat manusia) yang mengetahui bahwa mereka PASTI akan kembali (mudik) ke kampung akhirat pada saat yang mungkin saja, besok, tahun depan, atau beberapa jam lagi [dimana tidak seorang pemudik pun mengetahui], logika normal nya akan menyiapkan perbekalan yang akan dibawa ke kampung halaman tersebut.
[jika tidak normal, tentu lain soal]
Bekal dan juga mungkin oleh-oleh tidak akan mungkin dilupakan untuk dibawa.
Karena pulang kampung hanya sekali, tentu tidak ingin mengecewakan !
Mudik Tak Kembali akan kita lalui.
Sebaik-baik bekal untuk "mudik" adalah taqwa.
Mudah-mudahan berdasarkan bawaan (bekal) kita tersebut, akan mengarahkan kita ke wilayah Sorga.
Aamiin..
Mudik, kita pahami sebagai tradisi pulang kampung asal dari daerah rantau (daerah dimana masyarakat yang meninggalkan kampung halamnnya tersebut mencari nafkah/penghidupan). Mudik sebenarnya tidak mesti terjadi saat lebaran, natal, atau saat-saat tertentu saja.
Anytime, mudik dapat terjadi dan dilakukan.
Pembaca yang berbahagia..
Mungkin ada diantara kita yang lupa tentang asal nenek moyang kita. Untuk mengingatkan, saya sampaikan bahwa nenek moyang kita, yaitu Nabi Adam as. , berasal dari sebuah kampung yang bernama akhirat.
Kampung akhirat memiliki persimpangan dua wilayah, yaitu ; SORGA dan NERAKA.
[Ke arah mana persimpangan itu ditempuh akan ditentukan oleh "bawaan" yang dibawa pemudik]
Untuk mencapai kampung akhirat hanya bisa dicapai dengan kendaraan yang bernama MATI/MENINGGAL DUNIA !
Waktu berangkatnya kendaraan kematian: Kapan saja bisa !
Saat ini kita semua, umat manusia, pada hakekatnya adalah MERANTAU . Jika meminjam istilah sosiolog Minang, Bapak Mocthar Naim, kita sedang merantau sepanjang masa (sepanjang masa kehidupan kita di dunia, pen.)
Memang banyak yang mengatakan jika masyarakat Minang adalah masyarakat perantau, tetapi seluruh umat manusia di dunia ini sebenarnya adalah perantau.
Merantau dari kampung halaman.
Meninggalkan kampung akhirat untuk nantinya kembali lagi , MUDIK !
Mudik yang pasti akan dilakukan oleh semua umat manusia, suka atau tidak suka !
Yang membedakan "mudik" pembahasan kita ini dengan mudik yang biasa kita dengar adalah, mudik ini tidak mengenal istilah balik (kembali).
Mudik yang tidak akan memberikan kesempatan perantau yang telah menaiki kendaraan KEMATIAN untuk kembali (kecuali jika Allah SWT berkehendak lain !)
Mudik Tak Kembali.
Setiap perantau (baca : umat manusia) yang mengetahui bahwa mereka PASTI akan kembali (mudik) ke kampung akhirat pada saat yang mungkin saja, besok, tahun depan, atau beberapa jam lagi [dimana tidak seorang pemudik pun mengetahui], logika normal nya akan menyiapkan perbekalan yang akan dibawa ke kampung halaman tersebut.
[jika tidak normal, tentu lain soal]
Bekal dan juga mungkin oleh-oleh tidak akan mungkin dilupakan untuk dibawa.
Karena pulang kampung hanya sekali, tentu tidak ingin mengecewakan !
Mudik Tak Kembali akan kita lalui.
Sebaik-baik bekal untuk "mudik" adalah taqwa.
Mudah-mudahan berdasarkan bawaan (bekal) kita tersebut, akan mengarahkan kita ke wilayah Sorga.
Aamiin..
Senin, 07 Januari 2013
Stockwatch From Duitto & Co
Sabtu, 05 Januari 2013
Safari Jiwa Raga
Dalam penanggalam hijriyah (tahun Islam), bulan ini adalah bulan Shafar tahun 1434 H. Bulan Shafar menurut ceritanya karena pada saat dulunya di bulan-bulan inilah terjadinya perjalanan-perjalanan oleh para pedagang atau masyarakat Arab pada umumnya. Shafar bermakna perjalanan.
Dalam konteks kekinian, bulan Shafar ini di masyarakat Minangkabau (khususnya) merupakan saat untuk melakukan kunjungan / ziarah ke makam Syech Burhanuddin di daerah Ulakan- Padang Pariaman. Terlepas dari niat masing-masing yang melakukan, paling tidak "event" tersebut merupakan fenomena yang ada di sekitar kita.
Mungkin di daerah lain juga ada hal-hal seperti itu. Mungkin tidak harus pada waktu tertentu. Mungkin juga terdapat berbagai hal yang melatarbelakanginya.
Perjalanan jiwa raga sebenarnya selalu dilakukan oleh setiap insan di muka bumi ini.
Jika memang sudah merupakan hal yang lumrah, ngapain juga dibahas ?
Pembaca yang berbahagia..
Terkadang kita memang LUPA untuk meresapi a journey yang kita lakukan.
Perjalanan yang kita lalui.
Safari yang kita alami.
Safari jiwa raga yang kita lakukan setiap saat.
Pada saat - saat tertentu , mungkin jiwa kita saja yang melakukan perjalanan.
Pada saat saat tertentu, mungkin raga kita saja yang melalang buana.
Tetapi hampir sebagian besar waktu kita, perjalanan tersebut dilakukan oleh jiwa dan raga (can't separate them).
Hari ini, di tahun 2012, adalah hari ke 5 dari 365 hari dalam satu tahun ini.
Sudah 4 hari tahun 2013 kita jalani.
Kepenatan raga dan lelahnya jiwa mungkin terasa.
Alangkah baiknya jika kemudian asupan untuk raga dan jiwa tersebut senantiasa kita perhatikan.
Safari Jiwa Raga adalah HAL yang akan kita jalani selama ruh masih dalam badan.
Mari kita maknai setiap perjalanan tersebut dengan melakukan kebaikan-kebaikan.
Menghindari keburukan-keburukan.
Mumpung masih belum satu pekan !
Jangan sampai perjalanan yang kita lalui menuju "the life-after" menjadi tak bermakna !
Dalam konteks kekinian, bulan Shafar ini di masyarakat Minangkabau (khususnya) merupakan saat untuk melakukan kunjungan / ziarah ke makam Syech Burhanuddin di daerah Ulakan- Padang Pariaman. Terlepas dari niat masing-masing yang melakukan, paling tidak "event" tersebut merupakan fenomena yang ada di sekitar kita.
Mungkin di daerah lain juga ada hal-hal seperti itu. Mungkin tidak harus pada waktu tertentu. Mungkin juga terdapat berbagai hal yang melatarbelakanginya.
Perjalanan jiwa raga sebenarnya selalu dilakukan oleh setiap insan di muka bumi ini.
Jika memang sudah merupakan hal yang lumrah, ngapain juga dibahas ?
Pembaca yang berbahagia..
Terkadang kita memang LUPA untuk meresapi a journey yang kita lakukan.
Perjalanan yang kita lalui.
Safari yang kita alami.
Safari jiwa raga yang kita lakukan setiap saat.
Pada saat - saat tertentu , mungkin jiwa kita saja yang melakukan perjalanan.
Pada saat saat tertentu, mungkin raga kita saja yang melalang buana.
Tetapi hampir sebagian besar waktu kita, perjalanan tersebut dilakukan oleh jiwa dan raga (can't separate them).
Hari ini, di tahun 2012, adalah hari ke 5 dari 365 hari dalam satu tahun ini.
Sudah 4 hari tahun 2013 kita jalani.
Kepenatan raga dan lelahnya jiwa mungkin terasa.
Alangkah baiknya jika kemudian asupan untuk raga dan jiwa tersebut senantiasa kita perhatikan.
Safari Jiwa Raga adalah HAL yang akan kita jalani selama ruh masih dalam badan.
Mari kita maknai setiap perjalanan tersebut dengan melakukan kebaikan-kebaikan.
Menghindari keburukan-keburukan.
Mumpung masih belum satu pekan !
Jangan sampai perjalanan yang kita lalui menuju "the life-after" menjadi tak bermakna !
Minggu, 30 Desember 2012
Solusi Ulang
Mungkin ini menjadi postingan terakhir saya di tahun 2012 . Kurang lebih 24 jam lagi, maka jika Tuhan berkehendak, maka waktu akan bergulir masuk ke tahun 2013. Insya Allah..
Katanya, ada sebuah "habit" yang umumnya dilakukan oleh mereka yang menghadapi peralihan waktu, kebiasaan untuk membuat resolusi. Sebuah "tekad" , komitmen, atau JANJI.Hal ini karena resolusi merupakan kata serapan dari kata "resolution" -- Bahasa Inggris. Yang mana jika kita buka kamus salah satu artinya adalah ' something one makes up one's mind to do.
Bukan resolusi dalam Bahasa Indonesia yang diartikan sebagai putusan/kebulatan pendapat atau tuntutan ke pihak lain (karena tidak cocok dengan pemakaian untuk diri sendiri yang biasanya dipakai menjelang Tahun Baru).
Saya memiliki perspektif lain yang mungkin bisa didiskusikan.
Yaitu resolusi merupakan penggabungan kata dari Re + Solution.
Resolusi saya maknai sebagai Solusi Ulang.
Solusi ulang atas permasalahan atau hal-hal yang dihadapi dalam perjalanan waktu yang kita lalui.
Sebuah "jalan keluar" yang dicari kembali untuk mencapai visi/misi hidup.
Solusi yang di"pikir" kembali untuk dapat digunakan agar kehidupan masa depan menjadi lebih baik.
Solusi Ulang untuk tidak lagi "kalah" seperti waktu-waktu sebelumnya.
Menurut saya, itulah sebenarnya yang kita lakukan saat kita membuat resolusi tahun baru.
Selamat Tahun Baru 2013
Semoga Tahun Depan akan lebih baik.
Aamiin..
Katanya, ada sebuah "habit" yang umumnya dilakukan oleh mereka yang menghadapi peralihan waktu, kebiasaan untuk membuat resolusi. Sebuah "tekad" , komitmen, atau JANJI.Hal ini karena resolusi merupakan kata serapan dari kata "resolution" -- Bahasa Inggris. Yang mana jika kita buka kamus salah satu artinya adalah ' something one makes up one's mind to do.
Bukan resolusi dalam Bahasa Indonesia yang diartikan sebagai putusan/kebulatan pendapat atau tuntutan ke pihak lain (karena tidak cocok dengan pemakaian untuk diri sendiri yang biasanya dipakai menjelang Tahun Baru).
Saya memiliki perspektif lain yang mungkin bisa didiskusikan.
Yaitu resolusi merupakan penggabungan kata dari Re + Solution.
Resolusi saya maknai sebagai Solusi Ulang.
Solusi ulang atas permasalahan atau hal-hal yang dihadapi dalam perjalanan waktu yang kita lalui.
Sebuah "jalan keluar" yang dicari kembali untuk mencapai visi/misi hidup.
Solusi yang di"pikir" kembali untuk dapat digunakan agar kehidupan masa depan menjadi lebih baik.
Solusi Ulang untuk tidak lagi "kalah" seperti waktu-waktu sebelumnya.
Menurut saya, itulah sebenarnya yang kita lakukan saat kita membuat resolusi tahun baru.
Selamat Tahun Baru 2013
Semoga Tahun Depan akan lebih baik.
Aamiin..
Langganan:
Postingan (Atom)
