Jumat, 05 Oktober 2012

Point of View


Ibarat seorang pemotret yang ingin mengabadikan sebuah moment/kejadian, maka sang pemotret akan berusaha "angle" atau sudut pengambilan gambarnya tepat, agar hasil jepretan tidak sekedar snapshoot belaka.. Atau seperti seorang pelukis yang menggambar sebuah objek/model, maka sang pelukis pun akan mencari posisi terbaik agar hasil goresan yang dihasilkan menjadi bagus.

Itulah sudut pandang (point of view), sebuah titik dimana seseorang melihat/mengamati/menilai sebuah peristiwa atau momen atau hal-hal lain dalam kehidupan ini. Seperti ilustrasi dibawah ini, ketika sebuah gelas berisi air (namun tidak memenuhi seluruh gelas), maka masing-masing orang yang melihat akan "berkesimpulan" berbeda.
Ilustrasi beberapa sudut pandang 
sumber gambar : http://stepupyourgamenow.com

Jika kemudian anda mengambil posisi sebagai seorang religius, maka gelas berisi itu "mungkin" akan dimaknai dengan ; " apa pun isinya semuanya merupakan bagian dari skenarioNya" atau "kita harus mensyukuri apa yang ada" dan seterusnya.
Jika seorang bermental garong, maka mungkin akan berkata "berisi tidak berisi, gelasnya ntar bisa dijual". :)

Pembaca yang berbahagia..

Merupakan hak dari kita untuk mengambil sudut pandang atas peristiwa atau orang yang kita hadapi. Hak anda juga untuk memberikan komentar atas apa yang anda lihat/pahami sesuai sudut pandang tersebut.
TETAPI ada beberapa hal yang mestinya kita pedomani, agar sudut pandang kita tidak membuat kita salah mengambil kesimpulan.

1. Tidak terburu-buru untuk menjudge hanya berdasarkan satu sudut pandang. Coba ubah posisi point of view anda dalam meilhat sebuah peristiwa.
[ketika melihat seorang anak meminta-minta di jalanan , kita tidak langsung berasumsi bahwa anak ini merupakan bagian dari "mafia" , atau si anak dimanfaatkan oleh "jaringan" atau si anak pemalas dan sebagainya, tetapi coba lihat dari sudut yang lain; "jangan-jangan si anak TERPAKSA melakukannya karena kondisi ekonomi orangtuanya yang sedemikian miskin-- padahal hal ini merupakan perhatian dari suatu pemerintahan]

2. "Never judge a book by the cover" Apa yang terlihat sekilas belum tentu seperti itu aslinya. Perlu pemahaman lebih untuk kemudian bisa mengambil kesimpulan.Dimana selama proses tersebut asas "praduga tak bersalah" mesti dikedepankan.

3.Senantiasa berpikira positif. Segala yang terlihat/terjadi PASTI memiliki hikmah bagi orang-orang yang mau menggunakan pikirannya. Jika sakit yang diderita hanya dilihat dari satu sudut pandang, maka kita akan disibukkan dengan rasa kesal, sedih, dan sebagainya. Tetapi bukankah sakit juga bisa dilihat sebagai waktu untuk instropeksi, waktu untuk lebih mendekatkan diri kepadaNya?

4. Merujuk ke referensi utama dari sekian banyak referensi yang ada. Al-Qur'an dan Sunnah yang utama bagi kaum muslim, atau kitab suci masing-masing bagi pemeluk agama lain. Jika persoalan tersebut adalah hal-hal keilmuan, KESABARAN, KETEKUNAN dan KEGIGIHAN untuk mencari rujukan yang paling sahih, merupakan kunci komentar kita tidak dianggap ngawur/asal-asalan.

Mudah-mudahan postingan singkat ini bermanfaat bagi kita dalam memandang "sesuatu".

salam,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar